Firasat Amali
Tak seperti biasa. Amali tak langsung pulang. Mengobrol panjang lebar dengan Fauzan. Teman kerjanya yang terlebih akrab. Jarum jam menunjuk angka tujuh malam. Perasaan Amali mendadak resah dan ingin segera pulang. Suara kernet berkoar-koar menyebut jurusan yang dituju. Mendengar suara kernet Amali bergegas masuk ke dalam bis. Meninggalkan Fauzan begitu saja. Entah apa yang sedang terjadi, melihat kursi yang sudah penuh Amali semakin resah. Dua sampai tiga penumpang masuk, berdiri bersama Amali. Bis mulai berjalan perlahan. Sesekali berhenti menaikan penumpang. Setengah jam berjalan, bis penuh dengan orang berdiri – hampir tak ada celah antar penumpang. Kebanyakan mereka perempuan. Menghadapi situasi sesak semacam ini mereka mulai mengumpat dalam hati. Beberapa menit kemudian bis benar-benar penuh dengan orang berdiri. Tinggal berdiri tanpa pengangan pun tidak akan jatuh. Amali hampir tidak bisa bernafas. Merasakan sesak di dada. Bayang-bayang pulang terus menghantui pikirannya. La...