Posts

Showing posts with the label Mini Cerpen

Toko Yang Menjual Seorang Teman

Image
: EDEN Berapa harga yang kau keluarkan untuk seorang teman? Jika kau masih menganggap seorang teman berharga, kau tak akan pernah mengerti Lara. Sepanjang ia kecil, teman bukanlah hal berharga baginya. Dia punya barang berharga lainnya seperti boneka, buku diary, dan beberapa pensil yang sengaja tidak ia raut. Baginya bukan salahnya jika sewaktu-waktu kau akan marah karena dia samasekali tak menganggapmu. Lalu kau menganggapnya tak menghargai dirimu. Kau mulai menjauhi dirinya dan mengabarkan kejelekannya pada teman-teman yang menghargaimu. Lara tentu takkan ambil pusing. Justru ia akan dengan santai bilang padamu: “Berapakah harga yang harus ku keluarkan untuk menghargaimu? Sebab aku tak pernah melihat toko yang menjual teman. Jadi aku tak pernah tahu berapa harga sebuah pertemanan.”

Hujan di Mata

“Kemana saja kau ini?” “Entahlah. Angin selalu membawaku kemana-mana. Sesuka hatinya.” “Kau seorang yang pasrah. Tidak pernah melawan.” “Bukankah puncak dari hidup adalah kepasrahan?” “Itu bukan berarti kau harus mau dibawa kemana saja.” “Kau belum merasakan menjadi sepertiku.” “Aku bisa merasakannya.” “Ya, Kau bisa merasakannya.” “Kau tidak percaya?!” “Tadi aku bilang kau bisa.” “Kau mengucapkannya hanya untuk menyudahi pembicaraan. Kau tidak benar-benar menganggapku bisa.” “Baiklah, Kau tak mungkin bisa merasakannya.” “Kau!... Kau sama saja! Tidak berubah. Ku kira setelah kau kembali dari perburuanmu yang tak jelas itu, kau akan berubah,... kau akan berbeda. Ternyata salah. Aku terlalu berharap lebih padamu.   Aku sadar kalau aku bukan angin yang bisa membawamu kemana saja. Jadi, silahkan kau kembali pada hidupmu yang tak jelas itu.  Aku pergi sekarang. ” Pertemuan mereka selesai bahkan sebelum sempat duduk. Si perempuan ...

Sorot Mata yang Ingin Didengar

Dia begitu ingin dianggap dewasa. Atau katakanlah besar. Mungkin lebih tepatnya ia ingin didengar suaranya. Ya, walaupun hanya sepatah kata, itu membuatnya tenang. Bocah kecil itu memang benar-benar kecil. Bukan karena ia tak dianggap atau apa, di dalam kelompok. Tapi dia memang dirasa belum mempunyai hak untuk bersuara. Tapi dari situ terlihat jelas bahwa ia ingin sekali didengar. Dari sorot matanya ia begitu yakin kalau ia punya gagasan, ia punya ide. Dari sorot matanya tersirat jelas kalau idenya adalah yang terbaik. Pernah sekali aku mendengar ia berkata, “Aku bukan anak kecil. Hargailah aku walau hanya sekali.” Kalimat itu membuatku berpikir. Betapa anak ini ingin digunakan suaranya. Dan seluruh kelompok mengacuhkan. Aku justru menatapnya dengan ragu. Sepertinya perlu benar ia bersuara. Tentu bukan karena ia kecil dan aku merasa iba olehnya. Terkadang lincah benar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi apalah artinya semua itu jika umur memang tak menyetujui. ...

Kematian yang Tiba-tiba

Pagi-pagi benar Bari sudah mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan. Tidak seperti biasanya. Ditambah ini hari minggu. Tak sewajarnya koran justru diantarkan lebih pagi ketika hari libur. Tentu saja banyak tanggapan yang bermacam-macam dari pelanggan. “Nah, kalau bisa tiap hari seperti ini.” Ujar Pak Anto yang bekerja di kelurahan. Lain lagi dengan Pak Lukman. Ia agak marah-marah. Baginya itu hal aneh, tidak konsisten. Cerminan kalau pekerjanya seenaknya saja. Tapi komentar pedas Pak Lukman tidak menjadi pikiran Bari. Ia langsung meninggalkan suara Pak Lukman yang semakin jauh semakin sayup-sayup. Bari nampak sangat terburu-buru. Entah apa yang sedang menganggu pikirannya. Dia tak mengubris tiap ocehan para pelanggannya. Gerak dari rumah satu ke rumah yang lain pun sangat cepat untuk ukuran loper koran. Ia lebih mirip seperti sedang mengikuti lomba siapa cepat antar koran. Ketika semua koran telah selesai diantarnya. Basah kuyuplah ia oleh keringat. Segera mandi dan p...

Liburan di Kamar

Siang itu panas tiada tara. Tapi di dalam sini, di ruangan ini. Tiada terasa apa-apa. Film yang barusan selesai sedih sedalam-dalamnya. Tapi di dalam sini, di hati ini. Tiada terasa apa-apa. Lagu yang mengalun ritmis, mengisyaratkan bangkit dan bergerak. Tapi kaki ini diam saja. Rozaq telah mati rasa. Sehari-harinya hanya di kamar. Selama liburan. Keluar hanya untuk mandi dan mengambil makan, lalu membawanya ke dalam kamar. Sekeluarga sempat mencarinya. Bahkan mengkhawatirkannya. Rani kakak perempuannya sampai menemuinya di kamar. Ia dimarahi habis-habisan. Tapi tak terasa apa-apa. Rani pergi dengan cemberut tertahan yang begitu jelek. Keesokan harinya Rozaq bilang kepada ibunya. Bahwa dia baik-baik saja. Meminta padanya jangan terlalu memikirkan. Sebelum ibunya berucap seperti mau menasehati. Rozaq langsung kembali ke kamarnya. Menonton film lagi. Mendengarkan lagu-lagu mp3 lagi. Kadang-kadang juga membaca buku. Selama ia di kamar, tak hanya rasanya yang mati. Ia jug...