Posts

Showing posts with the label Puisi

Rindu

Aku tidak tahu ketika Kau tiba dan bawa kata Bajumu basah, matamu resah Sambil lalu kau bilang Aku rindu Aku tidak tahu ketika Kau tiba dan bawa kata Wajahmu jauh, senyummu rapuh Aku tidak tahu kalau Aku juga rindu

Eskrim Coklat

Di sore yang ranum, aku terbangun Di sampingku ia masih terlelap Penuh bebas berharap Lupa diri bentar lagi petang Bentar lagi gelap Aku keluar, jalan Dia masih tertidur, seolah petualang Aku beli rokok, menyalakan Seekor kucing lewat, melangkah gelisah Aku jadi ingat saat dia terjaga Maka kubeli eskrim coklat Sampai, kuletakkan eskrim di pipinya Sontak, ia bangun Merasa diteror, lalu senang Dipeluk aku, dibuka bungkus Segera, eskrim masuk ke mulut Dan asap membumbung Sekejap, kami keluar Melihat jalan seperti ular Melihat senja jatuh tenggelam

Toko Yang Menjual Seorang Teman

Image
: EDEN Berapa harga yang kau keluarkan untuk seorang teman? Jika kau masih menganggap seorang teman berharga, kau tak akan pernah mengerti Lara. Sepanjang ia kecil, teman bukanlah hal berharga baginya. Dia punya barang berharga lainnya seperti boneka, buku diary, dan beberapa pensil yang sengaja tidak ia raut. Baginya bukan salahnya jika sewaktu-waktu kau akan marah karena dia samasekali tak menganggapmu. Lalu kau menganggapnya tak menghargai dirimu. Kau mulai menjauhi dirinya dan mengabarkan kejelekannya pada teman-teman yang menghargaimu. Lara tentu takkan ambil pusing. Justru ia akan dengan santai bilang padamu: “Berapakah harga yang harus ku keluarkan untuk menghargaimu? Sebab aku tak pernah melihat toko yang menjual teman. Jadi aku tak pernah tahu berapa harga sebuah pertemanan.”

Bersolek Bersama Kartini

Image
Bila kau sibuk mewarnai bibirmu Kartini akan sibuk mewarnai anak-anakmu Bila kau sibuk menabur bedak di pipi Kartini akan sibuk menabur harapan padamu Bila kau sibuk menyisir rambutmu Kartini akan sibuk menyisir kebodohan suamimu Bila kau sibuk mematut diri di cermin Kartini akan sibuk mematutkan temanmu Bila kau telah selesai bersolek dan cantik Kartini telah selesai penghidupannya meninggalkan seperangkat alat bersolek untukmu

Kompilasi Puisi Wong Selo

Pesta Jalan Lama Karya: Arif Wahyu Nugroho Teh hangat menjadi teman Mie goreng menjadi sahabat Jalan lama menjadi kekasih Inikah bulan yang ingin bersinar Apakah aku bisa meraih bintang Jika diriku masih mengais tangga Pesta jalan lama Aku hanya duduk ditemani coklat Apakah itu coklat? Bukan, itu hanya secangkir teh Bukan secangkir keindahan cinta Cinta? Apa itu sejenis teh? Bukan, itu hanya penganggu hati Seperti rumput yang tumbuh di tengah sawah Lalu dima pesta jalan itu? Kau bertanya padaku? Akan aku jawab jika aku ... Bisa berjalan denganmu Seperti Solo Karya: Nurmansyah Triagus Maulana Satu atau dua tahun serasa tanda silang mencoret kalender Aura ini telah meresap ke dalam sumsum tulangku Sepanjang jalan Selamet   Riyadi yang menjadi saksi Tapak kakiku. Hiruk. Pikuk. Semangat pagi wong Solo begitu berseri dengan alunan suara campursari dan gending jawa pagi hari Ratusan monumen yang mungkin dapat menggeta...

Kampus

Dimana lahir kader-kader bangsa Dididik lama untuk negara Menjadi aset pertumbuhan dan kemajuan Kalau bukan di kampus, dimana pula Ada mereka yang menjadi ilmiah Keluar dari mulutnya kata-kata yang baru yang terdengar indah Ada pula yang menjadi pemikir Siang malam selalu berdiskusi di pinggir-pinggir jalan Kalau bukan di kampus, dimana pula Kadang antar mereka beradu Kadang juga mereka bersatu Mencari konklusi dari buku-buku Alangkah indahnya bila yang diperdebatkan Masalah-masalah bangsa Tapi tak lupa dengan diri dan kampus Perlu pula dijaga dan dirawat-ruat Oh, kampus Hidup di dalammu Mengajari kami kebijakan Tak memandang hanya dari depan Juga kebajikan dimana-mana Sayang, mahasiswamu masih juga begini ini Mengorek-ngorek diri dari lumpuran Menginginkan banyak tak mau bergerak Lagi pula masih buta arahmu juga Kemana akan dibawa, kemana akan dikejar Kampus, kalau bukan di sini dimana aku mencarimu?

Kata

Image
Sumber: https://duniatehnikku.files.wordpress.com/ 2011/11/text_portraits_04.jpg?w=400&h=400 Dari sejak kukenal kau kata Besar harapku padamu Kuperalat untuk kebenaran Kujadikan ajudan dalam perjuangan Kata, kata, kau diambil juga untuk berdusta Kadang juga jujur Tapi aku tak selalu berhasil Kadang juga tergelincir Sampai aku tertutup kabutmu Lupa memulai, lalai merapal Hampir ketika malam Aku lelah mempelajarimu Jika bukan karena aku bodoh Pastilah sudah jauh-jauh aku melampauimu Aku menjunjung tinggi dirimu Menempatkan pada titik tengah Membangun poros yang hampir roboh Sayang, itu hanya khayalanku Terbuai oleh mimpi tentangmu Lupa daratan! Dimana kaki berpijak Tak kujunjung langit Kini kau kata, kuperangkap dalam gelap Aku membisu bertemu musuh Dan kau kata, jauh lebih berkuasa Diri bersandar padamu laksana budak di raja Rela pasrah kau lucuti segala senjata

Karena Satu

Genderang ini sudah bergemuruh Siap lawan segala peperangan Tapi ia kalah hanya dengan satu: Senyummu, sayangku                          Tangan itu telah bergetar Menuliskan apa saja yang terlintas Tapi ia mati karena satu: Wajahmu, sayangku Sepeda ini telah siap kukayuh Melintasi padat merayap jalan ibukota Tapi ia berhenti karena satu: Hadirmu, sayangku Lupakan, lupakan, lupakan saja! Sajak cinta ini sampah Tapi satu yang membuatnya indah: Cintamu 

Aku Hampir Sekarat

Image
Sumber: https://img.okezone.com/content/2015/05/17/340/1151098/ bocah-wisatawan-terseret-ombak-belum-ditemukan-romcCPf9Su.jpg Datanglah sebelum detak ini segera usai Temui aku yang kehilanganmu Kemarilah sebelum denyut ini menghilang Aku menunggumu di taman belakang kota Tak ada maksud untuk memendam Bahkan ketika kita begitu dekat Jadi, segeralah datang sebelum segalanya berubah Telah kurobek tepat di jantung Membiarkannya terbuka sampai kau datang mengisinya Andai kau tak datang Aku tahu kau malu-malu Cepat, aku hampir sekarat Sebentar saja kau telat Detak dan denyut ini akan lenyap Hilang lebur bersama senja sore itu    Aku sudah sekarat Sebentar lagi aku bisa menjadi mayat Datanglah, karena senja itu berkata: Hadirmu melegakan

Sajak Si Buruk Rupa

Sungguh aku ingin menghapuskan ini. Hadirnya selalu membekukan suasana. Aku jadi salah jika bertemu. Kau selalu mampu menarik ulur rasa yang jauh. Mencuatkannya ke permukaan. Memorakporandakan diri yang biasa. Ya, terkadang aku merasa kau begitu dekat. Namun ketika kita bertemu aku sadar, kau bukan aku yang memikirkan segala tentangmu. Kau memiliki arah sendiri. Kau air yang mengalir menuju ketinggian. Aku kumbangan yang menggenang dalam diam. Sekali aku ingin bisa lepas dari pikatmu. Sekali aku ingin bebas bercanda denganmu. Walaupun sekali aku ingin merasa tak ada sekat yang membuat kita saling sungkan. Dan sekali itu tak pernah terjadi. Aku kalah kuasa atas diri, sedangkan kau acuh riuh bersama angin. Hal yang paling jatuh. Aku selalu berharap. Dan tak pernah tercapai. Hanya angan-angan. Bersama denganmu. Berbagi duniaku, mengeluh manja seenaknya. Sampai lupa kalau kita saudara. Sampai lupa kalau itu hanya harapan. Serta bodohnya aku yang selalu berharap. Suatu kali aku ingin ...

Malam Maryam

Puja dewa-dewi keheningan nestapa Arjuna luluh dipelukan nafsu angkara Apa malam pula yang membuatnya? Oh, oh, yang ada hanya gelap Mengusir bising menghadirkan dengung Selamat malam, Maryam Zaman ini begitu ganas Banyak yang seperti kau tapi bukan kau Laki-laki membudak pada nafsu Malam Maryam Barangkali memang kau Banyak pula keindahan dalam gelap Kalau saja mereka menyadari Duh, selamat malam, Maryam Tak sampai aku merangkai kata Keelokanmu hadir di zaman ini Berwarna-warni meluluhkan Barang siapa tak kuat iman Lahirlah anak setan Ya, Malam Maryam Malam ini bagian darimu membikin aku tak bisa tidur Merangkak menarik ulur hati Merangsang diri untuk tunduk Waduh! Sekutumu tak putus-putus Dulu kau mengoda Tuhan Kali ini aku tergoda Indah sekali Tak kurang lah Cukup Sesuai Pas Malam Maryam Cantik hati, cantik pikiran, cantik ucapan, cantik rupa Uh, aku meleleh

Perenungan Sang Mahasiswa

Malam yang begitu gelap Menutup apa-apa yang terlihat Seorang Mahasiswa duduk termenung Memandang gelap kosong Seperti apa ia kelak Semua yang di depan tak jelas Beberapa lebih senang bersama yang lalu Kewajiban yang lebih Hak yang merdeka Masih saja tunduk pada ego Masyarakat yang menanti Berharap bisa merdeka tahun depan Dan bukan sebatas harapan Mahasiswa menutup pintu Menutup jendela Mencoba merenungkan bersama kasur Berdiskusi dengan bantal Tertidur tanpa hasil Perenungan selesai tanpa solusi