Posts

Showing posts with the label Cerpen

Toko Yang Menjual Seorang Teman

Image
: EDEN Berapa harga yang kau keluarkan untuk seorang teman? Jika kau masih menganggap seorang teman berharga, kau tak akan pernah mengerti Lara. Sepanjang ia kecil, teman bukanlah hal berharga baginya. Dia punya barang berharga lainnya seperti boneka, buku diary, dan beberapa pensil yang sengaja tidak ia raut. Baginya bukan salahnya jika sewaktu-waktu kau akan marah karena dia samasekali tak menganggapmu. Lalu kau menganggapnya tak menghargai dirimu. Kau mulai menjauhi dirinya dan mengabarkan kejelekannya pada teman-teman yang menghargaimu. Lara tentu takkan ambil pusing. Justru ia akan dengan santai bilang padamu: “Berapakah harga yang harus ku keluarkan untuk menghargaimu? Sebab aku tak pernah melihat toko yang menjual teman. Jadi aku tak pernah tahu berapa harga sebuah pertemanan.”

Cinta Bisa Diidealiskan

A man as he thinks, you can change it. Kutemukan sebaris kalimat itu entah dimana aku lupa. Kalau tidak di sebuah buku, tentu lah dari film. Keduanya media biasa aku belajar. Kau tak tahu itu. Bukan itu juga, kau belum juga tahu siapa aku. Sebelum kita bertemu dengan tidak sengaja di perpustakaan kampus. Sejak pertama kali itu, kau menyetujuinya. Berkata kalau manusia memang terlahir untuk berpikir dan memilih. Terlepas ia harus rela menerima takdirnya. Aku. Untuk mengimbangimu, kukatakan saja sebuah contoh: sekeras apapun seorang dilarang untuk melakukan keinginannya. Selagi keinginan itu masih menjadi pikirannya, entah kapan, dia akan tetap melakukannya. Karena dari pikiranlah seorang akan meninterprestasikan kedalam sebuah pilihan-pilihan. Kau mengangguk, tersenyum penuh arti. Oh iya, aku tidak akan menceritakan bagaimana kita dapat bertemu dan mengobrol seperti itu. Kau tentu enggan mendengar cerita picisan seperti itu. Aku mengertimu sejauh kau mengerti dirimu s...

Gadis Penjual Coklat Hangat

Andre sudah putus asa hanya bisa menunggu dan mengamati saja. Minggu pagi ini ia enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Kebiasaannya naik sepeda ke car free day sirna sudah. Bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan kalau minggu ini ia berangkat. Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia sadar setelah kemarin melihat dia, gadis penjual coklat hangat dibonceng seorang pria. Mimpinya menusuk dirinya sendiri. Andre pernah bermimpi suatu kali ia sedang naik sepeda di car free day. Dengan cara apa dan bagaimana tiba-tiba saja, sepedanya berubah menjadi sepeda yang ada boncengannya di belakang. Dan ia memboncengkan gadis itu. Ia dipelukan dari belakang. Kuat sekali. Sampai ketika ia bangun masih dirasakannya bekas pelukan si gadis di perutnya. Seketika ia langsung mengebut menuju car free day. Tak digubrisnya handphone yang biasanya selalu dilihat dulu. Ia juga lupa minum air putih. Kayuhan sepedanya lebih mirip seorang atlet. Kencang tak putus-putus. Bahkan sampai-sampai seorang ditik...

Toko Buku Licht

Ada sebuah toko buku. Buka sampai malam. Sepi pengunjung. Letaknya pun sangat tidak strategis. Tak ada lalu lalang orang. Di kota namun berada di ujung. Parahnya lagi berdekatan dengan tempat pelacuran. Dilihat sekilas lebih mirip toko bir. Sesuai dengan lingkungannya yang penuh dengan wanita penjaja tubuh. Temboknya kayu dan berkaca besar. Tua dan klasik. Tepat di atas pintu tertulis toko buku “licht”. Berasa bangunan peninggalan Belanda. Dengan penjaga tua gemuk. Bermata sayu. Duduk seperti orang mabuk. Sepi pengunjung. Dan si penjaga memiliki kucing yang sama malasnya. Satu-satunya yang terlihat cekatan hanya seorang anak usia belasan berkulit hitam. Pekerjaannya tiap pagi menyapu dan membersihkan buku-buku. Mengelap kaca. Juga membikinkan kopi si penjaga. Suatu siang datanglah seorang pria. Sebut saja namanya Misbah. Berbaju belel. Berwajah sayu seperti belum mandi. Masuklah ia ke dalam. Aroma buku-buku lawas begitu menyengat. Bercampur kayu yang lembab. Seperti mengucap...