Firasat Amali
Tak
seperti biasa. Amali tak langsung pulang. Mengobrol panjang lebar dengan
Fauzan. Teman kerjanya yang terlebih akrab. Jarum jam menunjuk angka tujuh
malam. Perasaan Amali mendadak resah dan ingin segera pulang. Suara kernet
berkoar-koar menyebut jurusan yang dituju. Mendengar suara kernet Amali
bergegas masuk ke dalam bis. Meninggalkan Fauzan begitu saja. Entah apa yang
sedang terjadi, melihat kursi yang sudah penuh Amali semakin resah. Dua sampai
tiga penumpang masuk, berdiri bersama Amali. Bis mulai berjalan perlahan.
Sesekali berhenti menaikan penumpang. Setengah jam berjalan, bis penuh dengan
orang berdiri – hampir tak ada celah antar penumpang. Kebanyakan mereka perempuan.
Menghadapi situasi sesak semacam ini mereka mulai mengumpat dalam hati.
Beberapa menit kemudian bis benar-benar penuh dengan orang berdiri. Tinggal
berdiri tanpa pengangan pun tidak akan jatuh. Amali hampir tidak bisa bernafas.
Merasakan sesak di dada. Bayang-bayang pulang terus menghantui pikirannya. Lampu
bis yang remang-remang membuat suasana semakin panas. Beberapa penumpang
bercucuran keringat. Hal macam ini Amali alami selama 2 tahun terakhir.
Berangkat pagi pulang petang, naik bis menempuh jarak 82 km atau sekitar 2 jam
untuk sampai rumah. Ya, untuk pulang. Kata itu yang sontak hadir di benak
Amali. Sebenarnya untuk apa ia pulang. Di rumah tak ada lagi keluarganya. Orang
tuanya tak jelas kabarnya. Sudah meninggal atau masih hidup. Untuk apa Ia
pulang kalau nanti pagi-pagi harus pergi lagi, bukankah dengan menginap di
rumah teman akan lebih memudahkan aksesnya untuk kerja. Di rumah hanya ada Oma,
begitu Amali memanggil perempuan tua yang membesarkannya. Oma sama sekali tak
pernah memahami Amali. Setiap hari Oma hanya ngomel ini-itu soal kepribadian
Amali. Pernah sekali Oma memarahi Amali habis-habisan karena berpacaran dengan
polisi. Amali tak tahu jelas apa alasan Oma memarahinya. Oma marah seperti tak
ingin hal buruk menimpa Amali. Dan besoknya Amali putus dengan pacarnya, karena
Oma.
“Oma!”
panggil Amali sontak membuat penumpang melihat ke arahnya. Rasa resah itu
muncul lagi.
Bis
berhenti. Menaikan penumpang lagi.
“Penumpang
lagi?! Sudah penuh, pak!” teriak Amali. Ia kesal dengan si kernet. Rasa resah
membuatnya menjadi emosional. Hal itu justru membuat rombongan perempuan ikut
menimpali. “iya, pak. Sudah penuh. Jangan ditambah lagi, kasihan yang
perempuan,” ujar mereka bergantian. Kernet memutuskan untuk tetap menambah
penumpang. Menghiraukan Amali dan beberapa perempuan itu. Bis terasa miring,
seperti berat sebelah.
Seperti
roda bis yang berputar cepat. Sifat rombangan wanita mendadak cair. Aneh. Pikir
Amali.
“Eh,
kemarin pas Aku ulang tahun pacarku ngasih hadiah boneka lucu banget.”
“Aahhh!
Itu sih biasa. Pacarku malah ngasih Aku cincin.”
“Kalau
Aku belum punya pacar, ulang tahunku dirayakan di rumah bersama keluarga. Itu
cukup.” Mereka bicara layaknya perempuan pada umumnya. Ceriwis.
Amali
menyaksikannya seperti menonton sebuah film. Pikirannya hanyut dalam obrolan
tiga gadis itu. Apa indahnya ulang tahun. Mengapa harus dirayakan. Apa pula
harus ada acara memberi hadiah. Bukankah ulang tahun pertanda kita semakin
dewasa. Seharusnya ulang tahun dijadikan perenungan untuk satu tahun sebelumnya
dan satu tahun kedepannya. Seperti itulah petuah Oma. Gejolak Amali selalu
berakhir pada Oma. Oma yang selama ini selalu mengaturnya. Menyuruh ini-itu,
melarang begini-begitu. Oma bukan Ibu Amali. Oma juga bukan keluarga Amali.
Tapi Oma lah yang mengatur semua hidup Amali.
Seandainya
Bapak dan Ibu masih, pasti Aku tidak akan bertemu Oma. Seandainya Aku lahir
sebelum Bapak dan Ibu hilang, pasti Aku bisa merasakan namanya keluarga, Aku
bisa merasakan kasih sayang Ibu, Aku bisa merayakan ulang tahun seperti ketiga
gadis itu. Seandainya Aku tak bertemu Oma pasti aku tidak akan berdesakan di
dalam bis seperti ini. Seandainya Oma mati pasti Aku bisa hidup bebas.
Ciiitttt!!
Bis
mengerem mendadak.
“Sialan
tuh kucing! Ngagetin aja!” teriak sang sopir seraya mengelap dahinya dengan
handuk – semacam reflek kebiasaan.
Tubuh
Amali tersungkur. Pikirannya seperti membimbingnya berpikir seperti itu.
Perjalanan pulang kali ini seperti membawanya pada satu titik. Fauzan. Pulang. Penumpang penuh. Ulang
tahun. Bis ngerem mendadak. Dan berakhir pada satu orang, Oma.
“Pulang!
Ya, Aku harus cepat pulang,” teriak Amali lagi tanpa sadar. Nafasnya berubah
tergesa-gesa, rasa resah itu kini mencapai puncaknya.
Seisi
bis memandanginya lagi. Semacam dejavu.
“Oma jangan pergi! Aku
belum pulang.”
***
Hari
ini ulang tahun Amali yang ke dua puluh. Ia menulis sebuah catatan di buku
diarynya. Di dapur Oma terdengar sedang beradu dengan alat masak. Entah sedang
memasak apa. Kala itu masih sangat pagi, Amali menulis tentang ulang tahunnya
yang tak pernah dirayakan Oma. Hari ini Amali dilahirkan kedunia, tapi oleh siapa
dan dimana Ia tak pernah tahu.
Sudah
menjadi rutinitas bagi Amali menulis di awal dan di akhir hari. Berlanjut
mandi, sarapan, lalu pergi bekerja. Seperti itu sejak Ia mulai bisa menulis.
Begitu juga Oma dengan rutinitas nasi goreng tiap pagi untuk Amali. Maka tak
ada yang special di hari ini bagi Amali.
Oma
sudah menunggu di meja makan dengan nasi goreng yang masih mengepulkan asap
pertanda baru selesai dimasak. Amali datang dengan pakaian hitam-putih seragam
wajib pabrik. Oma tersenyum melihat Amali. Bayi yang dulu Ia rawat telah menjadi
gadis dewasa yang mandiri. Amali justru membalas senyum Oma sinis. Sedikit
melirik ke meja makan tampak tak berselera.
“Nasi
goreng lagi?” dumelnya.
“Lho
bukannya itu makanan favoritmu, Mal?” balas Oma.
“Tapi
Oma, bukankah suatu yang berulang-ulang itu membosankan?”
“Makanlah
dulu, kali ini rasanya pasti beda.”
Seperti
itulah alasan Oma setiap Amali menolak untuk makan. Nasi goreng dan Oma sama saja, membosankan, batin Amali.
“Aku
makan di dekat pabrik saja, Oma,” sahut Amali ngeloyor pergi.
“Amali!
Cobalah sedikit, Oma ingin makan bersamamu pagi ini.”
“Tidak
Oma, Aku buru-buru,” secepat mungkin Amali pergi meninggalkan rumah.
Matanya
berkaca-kaca. Oma yang selama ini membesarkannya bukan orang tuanya bahkan tak
ada hubungan darah apapun. Amali merasa begitu banyak berutang pada Oma. Dan
rasa itu yang mengubah sifat Amali akhir-akhir ini.
***
Bis
berhenti. Amali turun dengan cepat. Matanya basah dengan air mata. Mulutnya tak
henti mengucap ‘Oma jangan pergi! Aku belum pulang.’ Jalannya seperti orang
kesurupan. Ingin segera sampai rumah. Jam sudah menunjuk angka 9. Pintu rumah
sudah tampak, Amali berlari menuju pintu tak karuan. Dengan segera, dibukanya
pintu kayu yang sudah menua itu.
“Oma!
Amali pulang. Oma! Amali pulang.” Teriaknya dengan terisak. Sebuah kue ulang
tahun mini tergeletak di meja. Tak dihiraukan. Bergegas Amali menuju kamar Oma.
Sosok tua itu sedang tertidur. Ada jeda lega sebentar. Perlahan menghampiri
Oma, dipeluknya tubuh renta itu. Dipeluk lagi, lagi, dan lagi. Tangis Amali
pecah. Tubuh Oma dingin. Tak ada lagi nafas. Tak ada detak jantung. Diam dan
kaku.
Bibir
Amali bergetar. Memaksa mengucap sepatah kata.
“Oma
jangan pergi! Amali sudah pulang!"
***
Surat
Oma untuk Amali
Untuk Amali,
Sebelumnya Oma ingin meminta
maaf karena telah lancang membaca buku diarymu tanpa izin kepadamu. Oma
membacanya tiap kali Kau berangkat kerja. Oma hanya ingin tahu tetangmu. Karena
Kau terlalu sibuk bekerja, Amali.
Maaf juga jika selama ini
Oma tak pernah memberi tahu siapa orang tuamu yang sebenarnya. Oma takut jika
Oma memberitahumu, Kau akan sangat membenci Oma.
Dari tulisan diarymu
sepertinya Kau tipe orang yang suka diingatkan lewat tulisan. Oh iya Amali, menurut
Oma tulisanmu bagus. Oma jadi ingat masa muda Oma. Ayah dan Ibumu adalah
sahabat baik Oma. Mereka pasangan yang serasi. Waktu kami masih SMA, Ayahmu
jago sekali membuat puisi dan Ibumu sering membacakan puisinya ketika ada
pensi. Masa yang indah Amali. Tapi kisah buruk bermulai ketika kami sudah
sama-sama menikah. Suamiku yang seorang polisi tergila-gila dengan Ibumu. Kala
itu sedang gencar sekali penghilangan orang-orang macam Ayahmu, yang gemar
menulis puisi perlawanan kepada pemerintah yang berkuasa. Ayahmu hilang karena
puisinya. Melihat situasi itu, suamiku memanfaatkan kesempatan untuk menikahi
Ibumu yang masih mengandungmu. Setelah Kau lahir, terbongkarlah siapa yang
menghilangkan Ayahmu, Amali. Ayahmu dihilangkan oleh polisi suruhan suamiku.
Karena itu Aku sangat melarangmu berpacaran dengan polisi. Mendengar berita itu
Ibumu shock berat. Ia sering melamun dan jarang sekali makan. Aku lah yang
merawatmu kala itu. Lalu beberapa bulan kemudian Ibumu sakit-sakitan dan ketika
suamiku diberhentikan karena kesalahannya itu, Ibumu ditemukan tak sadarkan
lagi. Sejak hari itu Aku minta cerai dengan suamiku dan membawa menjauh ke
rumah ini. Rumah yang Kau anggap membosankan di diarymu, sama membosankannya
dengan Oma.
Oma sudah tua, Amali.
Oma ingin pulang. Rumah Oma bukan di sini lagi. Sekarang ini rumahmu. Buatlah
agar tidak membosankan. Sekarang Kau bebas.
Maaf juga Oma selalu
memasakanmu nasi goreng. Sebenarnya kesukaanmu itu sama seperti Ibumu, Ia
selalu mengajakku beli nasi goreng jika selesai pementasan. Oma harap kau bisa
seperti Ibumu atau malah melebihinya.
Oh iya, Amali.
Akhir-akhir ini diarymu sering bercerita tentang Fauzan. Om abaca-baca sepertinya
Kau suka dengannya. Tadi pagi Oma baru tahu sosok Fauzan yang asli. Fauzan
datang kemari membawakan kue ulang tahun mini untukmu. Oma sempat berbincang
banyak, nampaknya Dia orang yang baik. Oma izinkan Kau dengan Fauzan membangun
rumah ini dan membuatnya menyenangkan.
Sekali lagi maaf,
Amali. Sebenarnya Oma ingin bicara langsung denganmu tapi Kau tak kunjung
pulang. Maaf, Amali. Oma harus pulang lebih cepat malam ini. Ayah dan Ibumu
sudah menunggu Oma di sana.
Terima kasih, Amali, sudah mau menemani, merawat, dan selalu
pulang untuk Oma.
(Oma)
Comments
Post a Comment