Wacana Naik Gunung*
Kita sedang makan siang waktu itu. Di sebuah warung makan yang menggunakan ruang tamunya untuk menaruh beberapa meja makan dan berbagai macam lauk-pauk. Sebelumnya sudah kusimpan keinganan untuk naik gunung sejak kemarin. Ini mungkin waktu yang tepat untuk mengajak mereka. Wawan dan Caca harus mau. Bagaimanapun caranya kita bertiga harus naik gunung. Hati ini bergemuruh ketika mulut hendak mengungkapkan kata ajakan itu. Mereka tampak tak punya keinginan sama sekali untuk naik. Hah. Rasa pesimis selalu menghantui orang tanpa keyakinan yang kuat. Hampir setengah piring kuhabiskan nasiku, masih saja gemuruh itu belum pergi. Perlahan tapi pasti, kuajak mereka untuk naik. Ternyata perasaan pesimis tadi adalah firasat. Wawan menolak dengan alasan capek. Sial. Kenapa dia mudah capek akhir-akhir ini, atau itu hanya alasan saja. Biarlah. Saatnya beralih ke Caca. Dengan teori resonansi: jika Caca mau pasti Wawan juga mau. Dan ternyata, teori resonansi itu terbukti, namun bukan dari Caca ke ...