Wacana Naik Gunung*



Kita sedang makan siang waktu itu. Di sebuah warung makan yang menggunakan ruang tamunya untuk menaruh beberapa meja makan dan berbagai macam lauk-pauk. Sebelumnya sudah kusimpan keinganan untuk naik gunung sejak kemarin. Ini mungkin waktu yang tepat untuk mengajak mereka. Wawan dan Caca harus mau. Bagaimanapun caranya kita bertiga harus naik gunung. Hati ini bergemuruh ketika mulut hendak mengungkapkan kata ajakan itu. Mereka tampak tak punya keinginan sama sekali untuk naik. Hah. Rasa pesimis selalu menghantui orang tanpa keyakinan yang kuat. Hampir setengah piring kuhabiskan nasiku, masih saja gemuruh itu belum pergi. Perlahan tapi pasti, kuajak mereka untuk naik. Ternyata perasaan pesimis tadi adalah firasat. Wawan menolak dengan alasan capek. Sial. Kenapa dia mudah capek akhir-akhir ini, atau itu hanya alasan saja. Biarlah. Saatnya beralih ke Caca. Dengan teori resonansi: jika Caca mau pasti Wawan juga mau. Dan ternyata, teori resonansi itu terbukti, namun bukan dari Caca ke Wawan. Melainkan sebaliknya. Caca justru tidak mau dan mendukung pendapat Wawan untuk tidak naik.
“Biarlah Wawan istirahat dulu. Besok aja kalau udah kemarau, Lan. Ini kan masih musim hujan.”
Dalam hati ingin sekali kukatakan bahwa naik gunung akhir-akhir ini mulai kehilangan esensinya. Jadi kalau kita naik di musim penghujan seperti sekarang, mungkin kita bisa mendapatkn esensinya kembali dan nilai lebih.
Perjuanganku untuk mengajak mereka belum selesai. Pernah kudengar dari Azkan bahwa Indonesia sering gagal berdiplomasi di dunia internasional karena mereka kurang lama untuk mempertahankan diplomasinya. Maka dengan sedikit tak-tik kuarahkan pembicaraanku pada permasalahan naik gunung dan apa-apa yang didapatkan. Kuceritakan pada mereka berdua bahwa di gunung ada segalanya. Jika kalian merasa capek maka naiklah gunung. Rasakan ketika kalian menghirup udara alam yang sejuk dan mengucap syukur maka rasa capek itu akan hilang. Kalau kalian ingin menjadi pribadi yang pintar. Silahkan kalian naik gunung karena di gunung kalian akan mengerti tentang bagaimana bentuk menghargai, mensyukuri, dan arti perjuangan. Caca malah dengan tiba-tiba membuat pertanyaan lelucon patahlah keseriusanku menjelaskan, “Bisa nggak di gunung kita dapet jodoh?” Apa-apaan ini. Bukankah kau mahasiswa pers. Seharusnya tak muncul pertanyaan semacam itu. Sungguh runtuh sudah opini yang kubangun susah payah. Dengan cepat kusahut asal tapi beralasan, “Bisa saja, ketika kau di gunung, kau bisa berdoa kepada Tuhan agar mendapat jodoh. Kan kau tahu bahwa di gunung kita lebih dekat dengan Tuhan?” Aku tersenyum bangga mengatakan yang terakhir. Dan lagi runtuh untuk kedua kalinya pendapatku itu ketika Caca menjawabnya dengan sanggahan bahwa kedekatan Tuhan dengan hambanya bergantung pada ketinggian. Tamatlah aku. Tapi ingat, perjuangan baru saja dimulai. Caca telah menunjukan sifat kritisnya dan Wawan, kenapa dia dari tadi diam saja. Bukannya dia yang paling tua, setidaknya ia ikut berargumen. Tapi, sudahlah. Biar kutanggapi Caca dulu.
 “Bukan begitu maksudku. Jika kita naik gunung maka tertinggalah sifat duniawi kita. Jadi bisa dikatakan hubungan kita dengan Tuhan akan lebih harmonis. Kan haji tak boleh memakai kain berjahit karena itu duniawi?”
Caca hanya tersenyum.
Dan Wawan tiba-tiba berucap, menyudahi ini semua. “Udah, yuk, bayar. Naik gunungnya minggu depan aja. Caca juga setuju kalau minggu depan. Iya kan, ca?”
Caca mengangguk. Selesai sudah semua ini. Satu lawan dua. Mau gimana lagi.
***
Sudah seminggu Lana tak datang ke sekre. Sejak pembicaraan kemarin di warung makan, ia tak pernah terlihat batang hidungnya di kampus. Kemana saja anak itu. Ditelpon nggak bisa pula. Jadi yang ngurus berita ini siapa. Lain kali inget kewajiban di sini kenapa. Nggak ngilang gitu aja. Gue kan ketua di sini. Hormat dikitlah.  
“Eh, Ca, lo tahu si Lana kemana? Ini beritanya kamu yang ngerjain ya?”
“Nggak, ah. Biar dia yang ngerjain, wan. Enak bener, ngilang seminggu terus yang nanggung kewajibannya musti aku. Ogah banget.”
“Tapi besok kita sudah layout dan harus segera naik cetak!”
Sambil menghembuskan nafas pelan dari mulut. Caca mengangguk, “Baiklah, tapi edisi selanjutnya si anak gunung itu harus ngerjain dua berita, ya?”
Lega rasanya Caca mau menggantikan Lana untuk nulis berita. Awas kalau dia ke sekre. Gue hajar dia, ampe sujud-sujud minta maaf. Katanya aja dengan naik gunung menambah kepekaan dalam bersikap. Lah ini malah ninggalin kewajibannya. Anak gunung macam apa dia.
***
Akhirnya sampai juga di puncak. Huh. Indah sekali bumi ciptaan Tuhan di ketinggian 3142 mdpl ini. Untuk sekian kalinya kutahlukan gunung merbabu. Dan untuk pertama kali aku mendaki sendirian.
Kemarin setelah berdebat dengan Wawan dan Caca. Aku diam-diam membeli perbekalan dan berangkat ke basecamp pendakian merbabu dengan naik berbagai macam alat transportasi. Dari bus kota, ganti bus yang lebih kecil, pindah angkot, dan terakhir dengan terpaksa ikut mobil bak terbuka untuk sampai basecamp. Keinginan naik gunungku sudah seperti candu. Tak dituruti, maka tersiksalah batin ini.
Perasaan takut akan hal-hal yang tak diinginkan sempat terlintas. Sampai berlebih pada kematian karena hujan dan badai. Namun dari keyakinan yang kuat itu, dipertemukan aku dengan Imo. Nama panjangnya Sutimo. Orangnya berperawakan ceking dengan wajah dan tatapan mata penuh bahagia. Kalau dilihat terus tatapannya seperti menandakan bahwa hidup yang ia jalani selalu bermanfaat untuk orang lain. Aku bertemu dengannya di pos kedua. Ternyata ia juga sedang melakukan pendakian mandiri, seperti aku. Maka tak perlu waktu lama untuk kita akrab.
Karena malam sudah terlalu pagi. Aku mengajak Imo mendirikan tenda. Tapi dia menolak. Apa-apaan ini. Aku bisa masuk angina kalau tidur tanpa tenda. Tapi lihatlah, sungguh bijak pendapatnya. “Alam adalah bentuk awal manusia. Kita semua bermula dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sekarang kita sedang bertemu dengan bentuk asli kita. Jadi masihkah kau tega menggunakan tenda untuk bersombong diri dengan bentuk aslimu?”
Tanpa bantahan apapun, kurapikan lagi tenda yang sudah kugelar. Malam ini aku tidur beralaskan matras beratap langit.
Setelah masak dan sarapan pagi. Kami berdua, dengan semangat yang tak terdefinisikan berangkat menuju puncak dengan kecepatan penuh. Selama perjalanan kami saling beradu pendapat tentang gunung dan arti hidup. Kekalahanku tadi malam harus terhapus dengan argumen-argumenku kali ini. Sambil terus ngoceh ngalor-ngidul langkah kami semakin dekat dengan puncak. Tinggal beberapa meter lagi. Kita bertaruh untuk balapan. Siapa yang sampai duluan berhak meminta apapun kepada yang kalah. Bisa kalian tebak. Kami lari seperti orang kesetanan. Tak peduli dengan lereng yang curam dan orang-orang yang mengamati. Satu tujuan kami: kemenangan mengapai puncak.
Dengan memperlebar langkah dan pengaturan nafas satu-dua. Kuusahakan untuk tetap fokus agar tak terpeleset.
Kita masih sama cepatnya. Ketika puncak tinggal 20 meter lagi, aku memimpin beberapa langkah di depan Imo. Kutengok ia dibelakang – hendak kuejek. Dan. Jatuhlah aku terpeleset. Imo tertawa bahagia. Ia mendahuluiku, dan demi sebuah persahabatan yang baru berumur jagung ia ulurkan tangan – membantuku berdiri. Sebuah celah untuk menjatuhkannya dan menjadi pemenang. Tapi ketika hendak kujabat tangan Imo, dengan cepat ia angkat tangannya keatas – terjengkanglah aku. Sambil tertawa puas ia meledekku.
“Lan, obsesi yang berlebihan bisa membuatmu gagal mencapai tujuan. Garis bawahi itu,” ucapnya lalu berlari meninggalkanku.
Dengan begini aku akan menjadi budak Imo. Menyebalkan sekaligus menyedihkan nasib diri ini. Tak apalah, berani bertaruh harus berani menerima konsekuensinya. Dengan hormat kepada sang juara, kutanyakan permintaannya.
“Mo, kau minta apa?”
“Mudah. Aku minta kau temani aku di sini 5 hari lagi. Nanti tiap pagi kita akan balapan ke puncak dan setiap pemenang berhak meminta apa yang disukanya.”
“Wow! Setuju!” dengan mata berpijar aku sangat menyutujui permintaan Imo. Seumur-umur hanya kali ini ada orang mau tinggal seminggu di gunung. Menarik.
Hari-hari berikutnya aku sama sekali belum pernah menang. Imo mulai minta yang macam-macam. Tampaklah sifat sombongnya. Mulai nasi goreng pakai telur dicampur mie. Buat api ungun besar untuk para pendaki. Sampai menjadi tukang pijat gratisan. Di hari keempat, akhirnya, kemenangan itu datang juga. Aku berhasil mengalahkannya. Terbersit untuk meminta potongan satu hari dari perjanjian awal dan pulang hari ini. Melihat persahabatan kita beberapa hari lalu aku urungan pikiran itu.
“Aku minta agar bulan depan Kau naik lagi ke sini. Akan kukenalkan kau dengan kedua temanku bernama Wawan dan Caca.”
Imo mengangguk.
Hari terakhir perjanjian dengan Imo. Rasanya berat ingin meninggalkan gunung dan berpisah dengannya. Tak kulihat Imo merasa sepertiku. Ia tampak senang akan berpisah denganku. Hah. Dasar manusia cungkring. Tak pentinglah cungkringnya itu. Yang terpenting kehebatannya menyusun kata-kata yang tak biasa kudapat dari narasumber-narasumberku di kampus. Setelah kutanya mengapa ia senang meninggalkan gunung dan berpisah denganku. Sungguh eksotik jawabannya. “Setelah ada perpisahan maka akan hadir rasa kehilangan. Namun dibalik kehilangan ada rasa rindu yang begitu mendalam dan indah – bisa jadi menyiksa bagi beberapa orang. Lalu akan muncul kebahagiaan yang tak bisa ditulis bahkan dilukis oleh seorang maestro sekalipun ketika rindu menemukan jawaban.” Ucapan itu menemani perjalananku kembali ke kampus – sekre tercinta. Bertemu lagi dengan dua manusia penuh alasan: Wawan dan Caca.
***
Belum bisa terima jika aku harus mengerjakan berita si Lana. Tapi apa daya, Wawan yang menyuruh. Dia pemimpin di sini. Nggak enak jadi bawahan. Kenapa pula Lana sok-sok ngilang gitu. Apa dia ngambek gara-gara aku dan Wawan tak mau naik gunung. Ah, males mikirin orang itu. Diakan bawahanku mengapa aku harus mengerjakan tugasnya. Sambil terus mengumpat, kuketik hasil wawancaraku tadi sore. Kumandang adzan magrib menghentikanku. Kulepas jari-jari dari laptop. Kuedarkan pandangan ke teman-teman yang sedang asik bermain kartu di tengah-tengah ruangan. Tak tahu  apa mereka tentang etika. Adzan magrib tak mau berhenti.
“Woe! Adzan. Berhenti dulu ngapa?!” bentakku lalu ngeloyor pergi keluar mengambil air wudhu. Tuhan memang Maha Mengetahui, amarah ini menemukan tempat yang tepat. Sepertinya ada bayang-bayang orang menggunakan tas gunung besar. Tampak senyum sok pintar yang khas dan pasti miliknya. Dengan sedikit berpura-pura tak mengenalnya, disalaminya aku sambil tersenyum tanpa dosa. Tak kugubris. Kupandangan ia tajam. Nampaknya ia mulai merasa bersalah. Lalu dengan luapan yang penuh: “Lanaaaaa!!!! Kemana aja lo! Beritamu itu lho kerjain! Paham nggak sih!” Para pemain kartu yang mendengar aku berteriak, keluarlah semuanya memukuli lana sampai puas. []
 


* Wacana = Wawan, Caca, dan Lana

Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata