Negeri Ya
Di
negeri bernama Ya, orang-orang selalu bilang ya. Kata tidak seperti saklar
kematian. Di negeri bernama Ya, orang-orang beraktivitas dengan teratur, tepat
waktu, disiplin, dan selalu tersenyum kepada sesama. Di negeri bernama Ya, tak
ada yang membantah, tak ada yang melawan. Semua permintaan, aturan, perintah
selalu sama jawabannya: Ya. Maka bisa dibayangkan di negeri ini tidak akan ada
sampah berserakan, tidak ada pengemis di jalan-jalan, tidak akan ada pengamen,
pedagang asongan, apalagi rakyat miskin. Tidak ada. Semuanya terlihat sempurna.
Kota-kota bersih dan rapi, indah teratur. Desa-desa begitu asri dan adem ayem.
Di negeri bernama Ya, orang-orang dengan rasa ingin tahu yang berlebih bisa
berakhir pada kematian. Pernah sekali, ada orang yang penasaran dan ingin
membuktikan. Apa benar jika mengucap kata tidak, maka ia akan mati. Dan sungguh
mengenaskan. Keesokan harinya orang itu hilang. Tak berbekas. Para tetangga tak
ada yang menangis, tak ada yang berduka cita, tak ada yang merasa kehilangan.
Karena seseorang telah berkata di keesokan harinya.
“Jangan
menangisi kepergian saudara kita. Mari lakukan kebiasaan seperti biasa. Yang
lalu biarlah berlalu.”
Maka
seketika semua tetangga mendadak lupa bahwa seseorang yang dekat dengan mereka
telah hilang. Di dinding sepanjang jalan banyak ditempeli aturan-aturan. Jangan
beginilah, jangan begitulah. Semua telah diatur sedemikian rupa agar
kesempurnaan di negeri bernama Ya berjalan sewajarnya. Dan kata ya terus
terucap dimana-mana. Seperti pujian kepada Tuhan. Dari anak-anak hingga orang
tua. Baik di jalan maupun di rumah. Semuanya hampir berkata ya tiap menitnya. Hingga
suatu saat muncul seorang kakek-kakek di trotoar kota. Bajunya yang kumuh
semakin terlihat kumuh di kota. Beberapa orang yang lewat memandangnya aneh,
terkesan acuh. Kakek itu kehausan. Sambil terseol-seol ia berjalan dengan
tongkatnya mondar-mandir di trotoar. Sampai akhirnya ia lelah sendiri karena
tak ada yang mau menolongnya. Kakek itu terduduk lesu di depan sebuah toko
mainan.
Seorang
anak tiba-tiba keluar dari toko dengan riangnya. Tampak di tangannya tergengam
sebuah boneka yang lucu. Ia berjalan sambil meloncat-loncat kegirangan. Lalu
tiba-tiba sebuah tongkat tergeletak di depannya. Dilihatlah sang kakek yang
meminta-minta air. Dengan naluri seorang anak yang masih polos, anak itu
memberikan botol minumannya pada sang kakek. Sebelum botol itu sampai di tangan
sang kakek, ibu dari anak itu muncul dan berteriak, “jangan kau berikan air
minummu pada kakek itu. Itu larangan, kau bisa mati!” teriak ibu itu histeris.
“Tidak,
Bu. Kakek ini sangat kehausan. Aku harus menolongnya,” ucap sang anak terakhir
kalinya. Di detik berikutnya anak itu lenyap dari pandangan. Ibu itu menangis
sejadi-jadi hingga mengundang banyak orang mendekat. Beberapa mencoba
menenangkan, melihatnya secara iba, dan ada yang hanya sekadar ingin tahu kondisi
sang Ibu. Lalu seseorang menyuruhnya untuk tidak menangis. Ibu itu
memandanginya tajam. Tatapan penuh amarah. Mana mungkin, seorang ibu yang
kehilangan anaknya disuruh untuk tidak menangis. Ini alamiah. Keluarlah kata itu
begitu saja dari mulut ibu, “Tidakkah kalian pikir, kalian tahu bagaimana rasanya
kehilangan. Kalian pikir, kalian mengerti kata tidak itu akan berakhir ma...,”
belum tuntas ia bicara. Kutukan ‘tidak’ telah melenyapkannya. Orang-orang yang
tadi mengerumuni lari ketakutan. Takut akan nyawa mereka terancam, eksistensi
yang selama ini mereka ciptakan akan hancur karena satu kata: Tidak. Kakek masih
memasang wajah untuk dikasihi tapi orang-orang lebih peduli dengan dirinya
masing-masing.
***
Di
negeri bernama Ya, orang jatuh cinta begitu mudah mendapatkan pasangan. Berani
sekali menolak maka hilanglah kau tak tersisa. Namun ada cerita aneh. Pernah sekali,
dulu sekali. Ada sepasang kekasih yang berucap tidak dan mereka tak hilang,
bahkan seperti tak terjadi apa-apa. Mereka adalah dua sejoli yang sedang di
madu cinta. Rasa saling kasih dan melengkapi yang suci dan tulus. Membuat setiap kata yang mereka
ucapkan adalah jimat penangkal kutukan ‘tidak’. Sampailah hubungan mereka ke
jenjang pernikahan. Berita tentang mereka cepat berkembang dari mulut ke mulut.
Tak perlu waktu lama, terkenalah mereka ke seantero negeri. Pemerintah mulai
kuatir jika-jika hal itu membuat warga yang lain terprovokasi, dan tak ada lagi yang menurut dengan pemerintah. Maka hilanglah rasa hormat rakyat pada pemerintah.
Hilanglah rasa takut yang menghantui rakyat dan demo akan terjadi dimana-mana. Pemerintah bisa jatuh. Maka dengan konspirasi yang
sangat picik, pemerintah menghilangkan dua sejoli tersebut di malam hari. Lalu
membuat berita bahwa tidak ada yang bisa menghindar dari kutukan ‘tidak’. Malam
itu ketakutan hinggap lagi di benak masyarakat bersama lahirnya seorang bayi
dari pasangan suami-istri itu. Seorang muda beranjak tua memungut
bayi itu, merawatnya, membesarkannya layaknya anak sendiri. Seorang itu kini
kehausan di trotoar yang membuat ibu dan anak hilang dalam beberapa menit lalu.
Begitu juga dengan anak yang dirawatnya, ia hilang, ketika mereka saling
bantah. Sang anak tak sengaja mengucap kata tidak. Maka esok adalah mendung
yang tak kunjung hujan bagi kakek.
***
Kakek
itu tiba pada titik puncak. Pandangannya mulai kabur. Sesosok putih menyilaukan
menjabat tanganya.
“Ayo,
kakek, tempatmu bukan lagi di sini,” ucap sosok itu halus terkesan tegas.
“Bolehkah
aku meminta permohonan sebelum kita pergi?”
“Silahkan,
kenapa tidak. Engkau sudah banyak sekali dikecewakan oleh sesamamu.”
“Aku
mohon, tolong kembalikan anakku yang dulu hilang ke negeri ini. Buatlah ia
kebal dengan ketukan ‘tidak’.”
Sosok
silau itu semakin menyilaukan pandangan sang kakek. Kabur. Tak terlihat
apa-apa. Hanya putih. Sang kakek tergeletak di trotoar.
***
Tak
perlu menunggu lama. Seorang anak remaja muncul dengan baju kucel. Ia terus
saja berteriak tidak. Orang-orang menganggapnya gila. Namun ia malah menjadi-jadi untuk mengucapkan kata tidak. Beberapa orang mulai terprovokasi. Rasa yakin tumbuh di
dada. Mereka bergabung, seperti gerombolan demonstran. Jumlah mereka semakin
bertambah. Terus berjalan menuju satu arah. Bertambah satu-dua di tiap
tikungan. Gema suara kata tidak yang mereka hasilkan semakin besar. Orang-orang
dengan rasa penasaran tinggi tanpa pikir panjang ikut saja. Masih terus saja
berjalan. Melewati pasar, toko swalayan, toko pakaian, toko mainan, toko buku,
dan masih banyak lagi. Bertambah. Lagi dan lagi. Kini jumlah mereka 5000 orang.
Semakin jelas. Langkah mereka ternyata menuju gedung pemerintah. Sambil
mencopoti peraturan yang terpasang di dinding-dinding jalanan kata tidak terus
bergema. Semangat mereka tak tergambarkan, seolah besok telah kiamat. Maka berkata ‘tidak’ atau
tidak, tetap mati. Maka sampailah mereka di depan gedung pemerintah. Gerbang
tertutup dan dijaga para polisi. Terjadi
saling dorong dari dua pihak. Demostran sementara kalah. Kata tidak terus
diteriakan. Lalu munculah lagi 5000 orang dari arah kanan. 5000 lagi dari kiri,
tidak kurang dari 10000 muncul dari belakang. Mereka bersatu menghantam gerbang
pemerintah sampai jebrol. Para polisi kalang kabut dan berlari terbirit-birit. Setelah berhasil masuk. Sejak hari itu maka kata
tidak tak lagi menjadi kutukan. Orang-orang hidup normal kembali. Kota tiap
hari kotor dan tiap hari dibersihkan. Tangis dan tawa kehidupan muncul lagi.
Cinta menemukan artinya. Tapi anak dari kakek terus saja berkata tidak. Ia tak mampu berkata Ya. Lalu karena masyarakat
menganggapnya sebagai sang pelopor maka diangkatlah ia sebagai pemimpin di
negeri yang tidak lagi bernama Ya.
***
100
tahun kemudian…
Di
negeri bernama Tidak, seorang tak pernah mengatakan ya. Mereka pembangkang. Tak
pernah sama sekali menurut pada perintah. Di negeri bernama Tidak, orang
menjadi brutal ketika keluarga mereka meninggal – tak bisa menerima kenyataan.
Orang jatuh cinta sangat sulit mendapatkan pasangan. Mereka tegas menolak
pernyataan cinta tanpa tedeng aling-aling. Di negeri bernama Tidak, seorang
mantan pemimpin yang 100 tahun lalu memulai mengucapkan kata tidak, sekarang
sedang mondar-mandir di trotoar meminta minum pada orang-orang yang lewat. []
Keren Bos. Kayak gimana gitu. :)
ReplyDelete