Kolam Teratai
Kabut
turun pagi ini. Beriring suara ayam berkokok yang terdengar malas menemani
ayunan sapuku menyapu ruang tengah. Debu yang tersapu seperti hendak menusuk ke
dalam hidung lalu membuatku bersin habis-habisan. Entah kenapa pagi ini terasa aneh
bagiku. Tak seperti biasanya. Sejak sholat shubuh tadi aku telah merasakan
keganjilan. Duh. Perasaan apa ini, pikirku. Cepat-cepat aku menghabiskan sisa
lantai yang belum tersapu dan membuangkan ke halaman rumah. Dan betapa kagetnya
aku ketika kolam terataiku hancur tak karuan. Bunganya patah, ada bekas
longsoran tanah di sisi-sisi kolam, dan banyak tangkai teratai dicabut dan di
lempar ke gedhek warung ibu di sebelah kiri kolam. Aku marah sekali. Ini adalah
bentuk teror padaku. Siapapun yang melakukannya harus berhadapan denganku. Apa
alasan mereka dan siapa mereka. Aku sama sekali tak punya musuh di kampung ini.
Aku hanya lulusan SMA dan anak seorang penjual gorengan. Aku hanya pengagum Ki
Hajar Dewantoro dan bunga teratai, yang mengajar anak-anak tiap sore. Ah! Itu!
Pasti ini ulah guru-guru SD II. Apa yang dipikirkan mereka. Mereka seorang
guru.
Tapi
tunggu dulu, aku ingin membuat ini semacam cerita pendek tentang seorang guru
yang sudah keliru mendidik muridnya dan sekarang menyerang seorang pengagum
bapak pendidikan Indonesia. Maka perlu kucari-cari titik awal atau pembuka
cerita yang bagus. Aku harus menyinggung tentang teratai dan kolam, kemudian
mulai bercerita tentang keluarga kolam itu, lalu rutinitas sang pemilik kolam,
cara ia mendidik anak-anak warga hingga banyak siswa SD II berontak pada
gurunya dan karena sang guru tidak terima maka dihancurkanlah kolam teratai
itu. Mari kita mulai ceritanya:
Tak
ada yang salah jika teratai tumbuh di kolam bersih orang-orang kaya atau tumbuh
di lumpur yang kotor bahkan di selokan. Aku menyukainya. Tak peduli dimana ia
tumbuh dan singah. Karena ia tetap teratai yang selalu membawa keindahan.
Membawa kedamaian tersendiri kepada manusia yang melihatnya. Menemani hari-hari
mereka yang penuh masalah. Dan yang pasti memberikan udara semangat kepada
mereka yang jiwanya terjajah. Barangkali itu filosofi teratai. Seperti itulah
kau. Ya, kau yang telah membawa pemikiran dan konsep-konsep pendidikan untuk
negeri ini. Aku sama sekali bukan orang sepintar dirimu tapi dengan membaca
tulisanmu membawaku terbang menembus batas primitif pendidikan yang hari ini
telah menlenceng jauh dari apa yang kau inginkan. Mungkin karena tanggal
lahirku yang jatuh 1 hari setelah kau: 3 mei – membuatku menyukai pemikiranmu. Kau
lah bapak pendidikan Indonesia pertama. Ki Hajar Dewantoro. Begitu
tergila-gilanya diriku denganmu. Sampai-sampai beberapa barangku dan hampir
semuanya bertuliskan kutipan-kutipan milikmu. Dari buku pelajaran, buku
catatan, jendela, pintu kamar, almari, dan beberapa lagi di tempat-tempat yang
tak selazimnya dipasang tulisan semacam itu. Seperti di bawah piring dan pintu
toilet. Bukan maksudku menghinamu, ini justru bentuk cintaku yang berlebih agar
dirimu tak dilupakan oleh keluargaku. Walaupun kemarin ibu marah-marah karena
piring-piringnya aku tempeli semua.
Kesukaanku
padamu tidak lepas dari keluargaku. Sejak aku kecil mereka selalu bercerita
tentangmu. Konsep belajarmu yang mengatakan bahwa pendidikan pertama dan yang
utama adalah keluarga. Ayah dan Ibu mengamalkan prinsip itu. Baru setelah aku
masuk SD mengerti bahwa cara mereka mendidikku adalah pemikiranmu. Bapak lalu
mulai bercerita tentang pendidikan di masanya yang katanya serba sulit tapi
selalu menyenangkan untuk bangun pagi dan berangkat sekolah. Oh, iya. Aku
sampai lupa mengenalkan diriku gara-gara terlalu kagum padamu. Kau tahu, namaku
sengaja dibuat mirip denganmu dengan harapan kelak aku bisa pandai sepertimu.
Ibu lah yang ngotot menamaiku.
“Pokoknya
harus ada yang diambil dari nama Ki Hajar Dewantoro!” bantah ibu kepada bapak,
ketika bapak ingin memberi nama padaku Siti Aisyah.
“Baik,
baik, kalau begitu Siti Hajar saja. Bagaimana?” jawab bapak tenang.
Barulah
ibu tenang dan mulai meninggalkan wajah marahnya. Namun akhir-akhir ini aku
mulai meragukan bahwa ibu yang ngotot ingin menamaiku mirip denganmu. Pasalnya
ketika beberapa sisi rumah aku tulisi semua tentangmu dia pula yang
marah-marah. Bapak justru tersenyum penuh arti melihat ibu marah padaku.
Sekolahku
tak setinggi kau. Aku tak melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluargaku
kurang mampu. Tapi bukan itu alasanku. Aku hanya ingin merdeka dalam berpikir,
seperti katamu. Karena yang kurasakan selama dua beas tahun sekolah guru hanya
memaksakan ilmu itu pada kita, memberi tugas-tugas, yang kurasa adalah sebuah
bentuk penjajahan hak kita untuk belajar. Singkatnya mereka ingin diperhatikan
dan menjadi satu-satunya sumber belajar. Padahal dalam konsep pendidikanmu yang
kau gembor-gemborkan dulu, guru hanya sebagai fasilitator. Siswalah yang berhak
untuk menentukan bagaimana dan seperti apa ia mau belajar.
Maka
pekerjaanku adalah membantu ibu membeli bahan-bahan untuk membuat gorengan yang
dijual pada siang hari hingga sore. Setiap pagi, setelah aku bangun dan sholat
subuh aku akan bersih-bersih rumah dan halaman, mencuci piring dan baju, lalu
mandi. Sedangkan ibu sibuk memasak di dapur. Seperti itu tiap hari. Membosankan
bukan? Seorang pengagummu ternyata hanya melakukan pekerjaan rumah tanpa
melakukan amal kepada bangsanya. Pasti kau beranggapan aku sama saja dengan
mereka yang melupakanmu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku pengagummu yang beda.
Telah kubuat semacam kolam yang kalau dilihat lebih mirih empang di depan
rumah. Kolam itu aku isi dengan bunga teratai. Setelah makan pagi. Aku selalu
duduk di depan teratai itu. Memikirkan hal apa yang harus kuajarkan pada
anak-anak nanti sore. Ya, aku membuat semacam sanggar untuk mendidik anak-anak
warga sekitar supaya mental dan pemikiran yang sejalan dengan apa yang kau
cita-citakan. Begitu pula kutanam teratai di depan rumah. Agar aku bisa
berdialog denganmu melaluinya dan agar anak-anak mengerti dan menginternalisasi
filosofi teratai yang berwujud pada sosokmu. Waktuku bersama teratai ini akan
berakhir pukul delapan pagi. Bisa saja molor, tapi ketika suara ibu sudah
memanggil-manggil, itu hal yang tak bisa ditawar lagi. Aku harus segera
menemuinya dan berangkat ke pasar. Beginilah menjadi anak. Harus manut pada
orang tua.
“Bisa
nggak sih, bu, nggak teriak-teriak gitu. Tidak elok seorang perempuan
ngomongnya keras-keras.” Ucapku pada ibu yang tampak sangat ribut dengan
dapurnya.
“Sejak
kapan kau berani menasehati orang tua?! Kalau ibu nggak buru-buru ngantar
makanan ini untuk ayahmu di sawah, dia bisa marah-marah. Kau pernah merasakan
menjadi istri dan ibu yang berkeluarga macam ini?! makanya diam dan cepatlah
pergi ke pasar.” Perkataan ibu penuh dengan tekanan. Ada semacam rasa kebebasan
yang terkekang dengan statusnya menjadi istri. Ingin kubantah dengan kalimat, “itulah
yang kurasakan ketika aku menjadi anak dari keluarga seperti ini.” Tak usahlah.
Lebih baik ke pasar membeli benih-benih teratai untuk kuberikan pada anak-anak
supaya mereka juga menanamnya di rumah masing-masing.
***
“Kalian
harus melawan! Para pendiri bangsa ini bisa memerdekan kita karena melawan.
Buang rasa takut kalian. Ki Hajar mengajarkan kita harus merdeka dalam
berpikir. Jangan sampai guru kalian memaksa keinginannya. Itu salah dalam dunia
pendidikan. Seharusnya ia memahami setiap siswa bahwasanya setiap siswa itu
berbeda, tidak bisa disamakan.”
“Tapi,
bu. Guru kami selalu punya ancaman ketika kami menolaknya. Dari menurunkan
nilai kami, memanggil orang tua kami, dan yang lebihnya lagi mengancam tidak
menaikkan kelas.”
“Itu
hanya sebatas ancaman, ketika kalian benar jangan pernah takut. Mereka tak
punya alasan untuk tidak menaikan kelas atau memanggil orang tua kalian.”
Pengajaran
sore ini tak seperti biasannya. Tampak seperti percakapan di atas. Anak-anak
mulai diancam karena melawan guru yang sewena-wena. Bagaimana ini, apakah
pendidikan sekarang adalah semacam fasis yang membuat takut para siswa agar
mereka menurut saja pada guru. Memotong kritik. Membatasi pikiran-pikiran
kreatif siswa. Mendewakan rasa rohmat. Guru bersuara besi dan tak bisa dibantah
sama sekali. Kalau hal ini terjadi maka aku harus bertindak. Melindungi
anak-anak didikku. Mendatangi SD II dan berbicara dengan guru mereka.
Setelah
anak-anak pulang aku berjalan menuju pintu rumah. Tapi dibelakangku terasa ada
sesuatu yang memperhatikan. Hal ini sudah kurasakan sejak mengajar tadi.
Setelah kutoleh kebelakang tampaklah asap rokok yang mengepul di balik semak
dekat jalan.
“Woe!
Keluar kau yang di balik semak-semak!” teriakku.
Seketika
ada batu besar yang melayang masuk ke dalam kolam terataiku. Orang itu lari
terbirit-birit. Dilihat dari postur tubuhnya. Sepertinya dia Pak Oman tukang
kebun SD II. Apa dia disuruh untuk memata-mataiku. Aneh sekali SD II itu. Apa
yang diinginkannya. Tapi lihatlah bunga terataiku mati satu tertimbun batu yang
dilempar Pak Oman. Sabar, batinku.
Kenapa
harus memataiku. Kalau memang aku bersalah atau mengganggu, kan, bisa
dibicarakan baik-baik. Toh mereka juga orang-orang berpendidikan. Buat apa
melakukan hal semacam itu dan melibatkan Pak Oman yang tak tahu apa-apa. Ah,
sudahlah. Aku tak mau memikirkan SD itu. Biar saja mereka instrokpesi diri
bahwa cara mereka mengajar dan mendidik anak-anak telah salah. Pantas kalau
anak-anak melawannya. Lebih baik aku bantu ibu di warung. Kembali ke kodratku
menjadi anak tukang gorengan.
***
Inilah yang kugambarkan di awal cerita di
atas. Kolamku dihancurkan oleh orang-orang sejak fajar tadi. Aku dapat surat
panggilan dari SD II. Baiklah, mungkin ini saatnya berdialog dengan guru-guru
itu. Mengajarinya cara mendidik menurut konsepmu. Aku mohon pada ibu untuk tidak
pergi ke pasar hari ini. Ibu membaca surat dari SD II. Mengiyakan saja. Sudah
saatnya untuk andil dalam memajukan bangsa. walaupun itu hanya lewat hal kecil
semacam ini. Sepanjang perjalanan para orang tua melihatku aneh. Mungkin mereka
sudah diapusi oleh guru-guru dari SD II. Mungkin guru SD melarang anak-anak
mereka datang ke sanggarku kemarin sore.
Ada
sedikit rasa gugup setelah aku sampai di SD II. Bagaimanapun aku sendirian dan
mungkin bisa jadi mereka sudah siap-siap dengan semua guru dan strategi
menjatuhkanku. Dengan mantap kulangkahkan kaki masuk ke dalam sekolah.
“Kak
Siti! Maaf kemarin saya tidak bisa datang ke sanggar karena Pak Dibyo melarang
orang tuaku untuk datang ke sanggar kakak.”
“Tak
apa, sebentar lagi kamu bisa lagi datang ke sanggar. Kakak akan mengurusnya.”
Bah!
Benar sekali apa yang kuprediksi, semua guru berkumpul di ruang dimana aku
dipanggil. Mereka beraninya keroyokan. Aku diserang dari semua penjuru. Seperti
maling yang ketangkap basah. Aku hanya sempat membantah satu kali tiap tujuh
kali argument mereka.
“Kau
anak lulusan SMA tahu apa tentang mendidik?”
“Pernah
kau menginjakan kaki di Universitas?”
“Atau
bergelarkah namamu itu?”
“Mikir!
Kami di sini lulusan sarjana, kami tahu cara mengajar. Kau tak usah mengaari
kami.”
“Aku
banyak baca buku tentang pendidikan. Bahkan aku mengerti konsep pendidikan yang
diharapkan Ki Hajar Dewantoro. Saya rasa bapak-bapak dan ibu-ibu guru yang
mulia ini sudah lupa dengan tut wuri handayani. Kalau memang tidak lupa kenapa
masih ada murid yang merasa tertekan dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar.”
Mendadak
mulut mereka kaku. Ingin mengucap sesuatu tapi tak bisa. Nurani mereka seperti mengiyakan
perkataanku. Mata mereka saling pandang. Ingin mengakhiri sidang kali ini. Setelah
lama diam. Akhirnya kepala sekolah mempersilahkanku kembali pulang. Ada
perasaan lega. Tapi bukan berarti ini perjuangan terakhirku. Kau yang kubela
konsepmu ingat janjiku. Aku akan terus menyebarkan benih-benih teratai
dimanapun. Membuat kolam-kolam teratai di tempat-tempat yang membutuhkan. Agar
teratai tak mati. Agar teratai terus tumbuh.
Yang sekarang lebih baik dari yang dulu, yang lusa lebih baik dari
besok. Dan akan selalu kuingat-ingat pesanmu, “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
[]
Keren pi.... Lanjutkan!! :-)
ReplyDelete