Toko Buku Licht


Ada sebuah toko buku. Buka sampai malam. Sepi pengunjung. Letaknya pun sangat tidak strategis. Tak ada lalu lalang orang. Di kota namun berada di ujung. Parahnya lagi berdekatan dengan tempat pelacuran.
Dilihat sekilas lebih mirip toko bir. Sesuai dengan lingkungannya yang penuh dengan wanita penjaja tubuh. Temboknya kayu dan berkaca besar. Tua dan klasik. Tepat di atas pintu tertulis toko buku “licht”. Berasa bangunan peninggalan Belanda.
Dengan penjaga tua gemuk. Bermata sayu. Duduk seperti orang mabuk. Sepi pengunjung. Dan si penjaga memiliki kucing yang sama malasnya. Satu-satunya yang terlihat cekatan hanya seorang anak usia belasan berkulit hitam. Pekerjaannya tiap pagi menyapu dan membersihkan buku-buku. Mengelap kaca. Juga membikinkan kopi si penjaga.
Suatu siang datanglah seorang pria. Sebut saja namanya Misbah. Berbaju belel. Berwajah sayu seperti belum mandi. Masuklah ia ke dalam. Aroma buku-buku lawas begitu menyengat. Bercampur kayu yang lembab. Seperti mengucapkan selamat datang padanya.
Kalau bukan karena desas-desus yang beredar. Barangkali tak bakal Misbah sampai sini. Yang ia pikirkan hanya bagaimana besok ia bisa makan. Dan di toko ini mungkin rezekinya tersimpan.
Desas-desus itu mengatakan bahwa ada sebuah buku peninggalan tokoh yang pada masa hidupnya menuliskan buku yang belum sempat diterbitkan lantarkan larangan keras dari pemerintah. Konon tokoh tersebut sering pindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Pada masa bebasnya pun ia sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempa yang lain. Dan sempat meninggalkan satu bukunya di sebuah toko buku tua. Sekarang banyak penerbit yang sedang mencarinya. Maka Misbah hanya ingin mendapat uang dari penemuan buku itu. Bukan karena isinya.
Tiap hari dari siang sampai malam-malam. Misbah menghabiskan waktunya di dalam toko. Menulusuri satu per satu buku tersebut. Hiduplah lagi toko buku tersebut walaupun hanya seorang yang beraktivitas.
Tiap malam sehabis pukul tujuh. Ia duduk di beja bundar yang bersebelahan dengan jendela. Dari sana ia biasa memandang para penjaja tubuh mencari pelanggannya. Kebanyakan dari mereka berteriak-teriak centil ketika para pelanggan datang. Ya, dijalan saja. Lalu masuklah satu atau dua ke dalam mobil dan pergi mencari tempat.
Malam-malam telah berlalu begitu saja. Misbah belum juga menemukan buku tersebut. Bukan ia tak sanggup menemukannya. Para pelacur membuatnya lupa. Tiap malam tiba ia mulai berhenti mencari. Mengamati keluar. Sampai ia paham. Mana-mana pelacur yang sering laku dan mana yang jarang atau bahkan belum pernah selama ia di sana.
Lalu suatu malam ia kaget. Jalanan sepi. Kosong melompong. Sejauh ini tak pernah ia mengetahui hari libur bagi para pelacur. Hatinya merasa gelisah. Semacam ada yang kurang. Seperti rokok. Kalau tak dituruti. Tersiksalah batin.
Keluarlah ia ke jalan melihat-lihat. Barangkali ada satu atau dua yang bisa ditanyai. Yang ada hanya bapak-bapak tua penjual rokok eceran. Dibelinya rokok sebatang. Siapa tahu bisa mengurangi kegelisahannya.
Duduklah ia di trotoar. Memikirkan sesuatu yang tak seorangpun tahu kecuali dirinya sendiri. Munculah anak hitam si penjaga toko.
“Sedang mencari apa?”
“Buku peninggala seorang tokoh.”
“Bukan. Maksudku, kau di luar mencari apa? Dari wajahmu nampaknya kau sedang kehilangan sesuatu.”
“Kemana perginya para gadis-gadis di sini?”
“Mereka sudah tak gadis semua.”
“Maksudku para pelacur itu.”
“Sepertinya akan ada razia malam ini. Mereka berpindah ke tempat lain. Tentu mereka tahu dari orang dalam.”
“Ya, aku mengerti hal itu.”
Sejak malam itu ia tak pernah keluar dari toko buku. Pagi siang malam kerjanya hanya mencari dan mencari. Tak pernah mandi. Dan tidur sesukanya. Di tempat-tempat yang tak selazimnya untuk tidur. Ia mulai akrab dengan penghuninya. Kecuali si penjaga toko yang gemuk. Bukan tipe orang yang mudah bergaul.
Dicarinya terus seperti orang kesetanan. Lupa makan. Tapi tak lupa ia merokok. Kelusuhannya bertambah berkali lipat sejak pertama kali ia datang. Hanya malam yang mampu menghentikannya sejenak. Mengalihkan pandangan keluar. Membayangkan kalau-kalau buku tersebut sudah ia temukan. Bukan mustahil ia mampu membayar wanita-wanita yang ada di luar.
Sudah hampir seluruh buku ia cermati satu-satu. Tinggal satu rak saja. Ia juga sudah kenal dengan beberapa wanita jalanan. Sekarang tahulah dia. Setiap datang informasi razia harus ada satu wanita sebagai imbalan. Dari itu pula ia tahu siapa yang hilang tiap info datang. Tiap kali satu wanita tak kelihatan ia tersenyum simpul. Seperti senyum syukur. Anehnya ia memiliki buku catatan tentang wanita yang hilang. Minggu ini adalah si seksi Lala, masih muda, melacur karena ditipu tantenya. Minggu kemarin Tari, ibu beranak satu, tak jelas siapa suaminya, melacur untuk hidup. Kemarin-kemarinnya lagi, Santi, pekerja yang jarang digunakan jasanya, alasan melacur karena paksaan pacarnya. Dan begitu seterusnya memenuhi buku catatannya.
Malam ini dibukanya buku catatan itu. Dilihat-lihat, ia tersenyum-senyum sendiri. Seperti orang tak waras. Setelah habis di halaman terakhir ia menoleh ke jalanan. Matanya tak berkedip. Mulutnya terbuka mengeluarkan air liur. Nampaknya birahinya memuncak. Dengan perlahan tapi pasti alat vitalnya mengalami ereksi. Getaran-getaran nafsu tak tertahan menjadikan aliran darah menderas dan menuju satu pangkal. Yang akhirnya keluar begitu saja. “Ahhh…”
“He, kau kenapa?” tanya si kecil hitam.
“Tak bisa aku membayangkan berdua dengan salah satu dari mereka.”
“Kau bisa melakukannya dengan gratis.”
“Apakah iya? Bagaimana caranya?”
“Tapi sudahkah kau menemukan buku yang kau cari?”
“Tak penting itu. Mungkin tak ada di sini.”
“Kenapa kau begitu yakin?”
“Sudah hampir seluruh isi toko ini aku telusuri. Bukan hanya aku melihat judulnya saja. Entah itu buku apapun kubuka satu per satu. Barangkali sang tokoh sengaja mengecoh dengan memberikan sampul yang tak sesuai. Kau tentu tahu masa dimana buku-buku semacam itu sangat dilarang terbit.”
“Aku tahu.”
“Ya, kau tahu hal itu. Kau seorang anak yang cerdas.”
“Maksudku aku tahu buku yang kau cari.”
“Oh ya, kenapa kau tak bilang dari dulu.”
“Kau tak pernah bertanya.”
“Baiklah. Sekarang kau yang serba tahu. Dimana buku itu?”
“Tadi kau bilang ingin berdua dengan wanita jalanan. Jadi kau pilih yang mana sekarang?”
“Sepertinya kau pintar membuat orang ragu-ragu. Kau tunjukan aku dimana buku tersebut. Lalu beri tahu aku bagaimana cara untuk berdua dengan wanita jalanan itu secara gratis.”
“Ya, sepertinya kau orang yang mudah ragu. Tak punya prinsip. Mudah terombang-ambing. Dan tak ingin kehilangan satu kesempatan pun. Kau serakah.”
“Baiklah. Beri tahu aku dimana buku itu. Lupakan urusan wanita.”
“Sebaiknya kau mengurusi wanita dulu. Bukunya telah kusimpan sejak lama. Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya untukmu.”
“Tak usah. Bukunya lebih penting.”
“Sudahlah, anggap saja perayaan atas ketemunya buku yang kau cari.”
Lalu bocah hitam itu keluar. Menemui gerombolan wanita di ujung jalan. Dari tempat Misbah duduk tampak mereka sedang bercakap-cakap untuk memutuskan siapa yang akan menemaninya. Oh, begitu deg-degannya Misbah ketika anak itu kembali dengan satu wanita yang memiliki tato kupu-kupu di lehernya.
“Silahkan tuan muda Misbah. Kau bisa memakai kamarku di ujung pojok.”
“Baiklah. Ayo, Luna!”
Ditariknya tangan wanita tersebut kencang. Jalannya menuju kamarpun tergesa-gesa. Hampir saja ditabraknya kucing si pemilik toko dan membuanya meraung berisik tapi tak dipedulikan. Ya, dia tahu nama wanita itu. Satu-satunya yang tak pernah laku dan menurut buku catatannya Luna lah yang sering membuatnya tersenyum bersyukur.
Malam ini ia memenuhi nafsunya. Menjadi raja atas Luna. Berguling-guling di kasur seperti ulat kepanasan. Sambil sesekali mendesah dalam gelap. Waktu terasa begitu cepat untuk kegiatan seacam ini. Seketika saja sinar matahari masuk melalui lubang-lubang kecil kamar. Dan ia baru menghentikan aktivitasnya lalu tertidur.
Pukul satu siang ia baru bangun. Tampak puas dari mimik mukanya. Luna telah tak ada di kamar. Langsung saja ia bergabung dengan si penjaga dan anak hitam di meja tengah.
“Ini bukumu. Tapi tak pantas kau menerimanya dengan kondisi seperti itu. Mandilah dulu.”
“Aku sudah terbiasa seperti ini.”
“Tentu lebih cocok kalau calon orang berduit tampak bersih dan rapi.”
“Kau pandai membuat orang mengikuti maumu, kawan kecil.”
“Sepertinya itu bakatku.”
“Oke. Sepertinya aku perlu mandi. Mengikuti budaya orang kaya ketika selesai melakukannya langsung mandi.”
“Ya, kau calon orang kaya.”
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan penampilan yang lebih rapi dan sedikit lebih wangi.
“Sekarang mana bukuku?”
“Ini. Silahka kau periksa.”
Oh, betapa kagetnya ia ketika membuka bukunya. Ternyata hanya lembar-lembar kosong.
“Apa-apaan ini?!”
“Aku tak bilang mempunyai buku yang kau cari. Aku bilang menyimpannya. Dan itu buku yang kusimpan.”
“Ini hanya halaman-halaman kosong!”
“Ya, aku tahu itu. Kaulah yang akan mengisinya.”
“Apa maksudmu?!” hampir tidak percaya setengah marah-marah.
“Setidaknya kau pelanggan kami satu-satunya yang berada di sini paling lama. Kau berhak mendapat daripada manfaat toko buku ini. Seperti namanya ‘licth’ yang berarti cahaya. Terkadang dari gelaplah cahaya itu muncul. Menulislah, tuan. Tulis cerita tuan ini. Bekerjalah untuk keabadian.”
Misbah diam tak mampu berkata-kata.
Si pemilik toko mengerak-gerakan kumisnya. Dengan ritme mata orang berpikir lalu berkata pada Misbah.
“Tak benar-benar ada buku yang lolos dari masa itu. Semuanya dibakar. Tentu kau tahu seperti apa yang kumaksud masa itu.”
“Ya, aku tahu.”
“Ya, kau tahu.” timpal si anak hitam.
Seketika mereka bertiga tertawa tanpa arti.  


Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata