Sajak Si Buruk Rupa

Sungguh aku ingin menghapuskan ini. Hadirnya selalu membekukan suasana. Aku jadi salah jika bertemu. Kau selalu mampu menarik ulur rasa yang jauh. Mencuatkannya ke permukaan. Memorakporandakan diri yang biasa.

Ya, terkadang aku merasa kau begitu dekat. Namun ketika kita bertemu aku sadar, kau bukan aku yang memikirkan segala tentangmu. Kau memiliki arah sendiri. Kau air yang mengalir menuju ketinggian. Aku kumbangan yang menggenang dalam diam.

Sekali aku ingin bisa lepas dari pikatmu. Sekali aku ingin bebas bercanda denganmu. Walaupun sekali aku ingin merasa tak ada sekat yang membuat kita saling sungkan. Dan sekali itu tak pernah terjadi. Aku kalah kuasa atas diri, sedangkan kau acuh riuh bersama angin.

Hal yang paling jatuh. Aku selalu berharap. Dan tak pernah tercapai. Hanya angan-angan. Bersama denganmu. Berbagi duniaku, mengeluh manja seenaknya. Sampai lupa kalau kita saudara. Sampai lupa kalau itu hanya harapan. Serta bodohnya aku yang selalu berharap. Suatu kali aku ingin membunuh harap, menenggelamkannya di sungai Bengawan Solo. Bodoh kalau aku pelihara tiap malam. Yang ada hanya siksa, merobek hati yang sobek.

Kau seperti putri. Kau agungkan persamaan. Kau buat semuanya tampak teratur dan indah. Perpaduan etika dan estetika. Keseimbangan yang sempurna. Mahakarya seni agung yang tak terjual. Tak cukup nilai untuk menilai. Kau hadir dalam hati tiap lelaki. Lalu aku merasa kecil, sangat kecil seolah aku ini si buruk rupa yang berharap seorang putri mencintaiku apa adanya – setulus-tulusnya.

Aku berharap aku pangeran yang dikutuk menjadi kodok dam kau putri yang salah pilih. Aku bermimpi akulah si joko kendil yang diam-diam seorang rupawan. Aku menyangka aku palsu dan yang asli tak alang kepalang sikap dan rupanya. Aku nglindur. Kenyataannya aku benar-benar si buruk rupa, asli tak ada kepalsuan sedikitpun di dalamnya. Aku menyerah dalam kalah. Aku menghina diriku sendiri. bukan karena tak mampu. Sadarku kau seorang putri, kau seorang permata yang seorang bangsawanpun harus ragu-ragu memilikimu. Apalagi aku.

Kita seperti selembar kertas. Saling memunggungi, saling bersama, tapi tak bisa memiliki. Aku akui aku pengecut. Tak patut juga aku mengaku. Kau belum tentu melihatku. Memang benar, nasib seorang telah tertulis. Segalanya terbatas pada realita dan kesadaran diri. Katakan aku gila jika kau pernah membaca ini. Tapi, sayang. Maaf izinkan aku memanggilmu sayang sekali saja.

"Sayang, bisakah kita bersama sehari saja? Membuang waktu, membuang batas, membuang harap dan angan, lalu lenyap dalam tawa yang menghapus rasa. Hingga suatu pagi, ketika aku terbangun aku telah lupa pernah mencintaimu."

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata