Hujan di Mata
“Kemana saja kau ini?” “Entahlah. Angin selalu membawaku kemana-mana. Sesuka hatinya.” “Kau seorang yang pasrah. Tidak pernah melawan.” “Bukankah puncak dari hidup adalah kepasrahan?” “Itu bukan berarti kau harus mau dibawa kemana saja.” “Kau belum merasakan menjadi sepertiku.” “Aku bisa merasakannya.” “Ya, Kau bisa merasakannya.” “Kau tidak percaya?!” “Tadi aku bilang kau bisa.” “Kau mengucapkannya hanya untuk menyudahi pembicaraan. Kau tidak benar-benar menganggapku bisa.” “Baiklah, Kau tak mungkin bisa merasakannya.” “Kau!... Kau sama saja! Tidak berubah. Ku kira setelah kau kembali dari perburuanmu yang tak jelas itu, kau akan berubah,... kau akan berbeda. Ternyata salah. Aku terlalu berharap lebih padamu. Aku sadar kalau aku bukan angin yang bisa membawamu kemana saja. Jadi, silahkan kau kembali pada hidupmu yang tak jelas itu. Aku pergi sekarang. ” Pertemuan mereka selesai bahkan sebelum sempat duduk. Si perempuan ...