Posts

Showing posts from September, 2015

Hujan di Mata

“Kemana saja kau ini?” “Entahlah. Angin selalu membawaku kemana-mana. Sesuka hatinya.” “Kau seorang yang pasrah. Tidak pernah melawan.” “Bukankah puncak dari hidup adalah kepasrahan?” “Itu bukan berarti kau harus mau dibawa kemana saja.” “Kau belum merasakan menjadi sepertiku.” “Aku bisa merasakannya.” “Ya, Kau bisa merasakannya.” “Kau tidak percaya?!” “Tadi aku bilang kau bisa.” “Kau mengucapkannya hanya untuk menyudahi pembicaraan. Kau tidak benar-benar menganggapku bisa.” “Baiklah, Kau tak mungkin bisa merasakannya.” “Kau!... Kau sama saja! Tidak berubah. Ku kira setelah kau kembali dari perburuanmu yang tak jelas itu, kau akan berubah,... kau akan berbeda. Ternyata salah. Aku terlalu berharap lebih padamu.   Aku sadar kalau aku bukan angin yang bisa membawamu kemana saja. Jadi, silahkan kau kembali pada hidupmu yang tak jelas itu.  Aku pergi sekarang. ” Pertemuan mereka selesai bahkan sebelum sempat duduk. Si perempuan ...

Sorot Mata yang Ingin Didengar

Dia begitu ingin dianggap dewasa. Atau katakanlah besar. Mungkin lebih tepatnya ia ingin didengar suaranya. Ya, walaupun hanya sepatah kata, itu membuatnya tenang. Bocah kecil itu memang benar-benar kecil. Bukan karena ia tak dianggap atau apa, di dalam kelompok. Tapi dia memang dirasa belum mempunyai hak untuk bersuara. Tapi dari situ terlihat jelas bahwa ia ingin sekali didengar. Dari sorot matanya ia begitu yakin kalau ia punya gagasan, ia punya ide. Dari sorot matanya tersirat jelas kalau idenya adalah yang terbaik. Pernah sekali aku mendengar ia berkata, “Aku bukan anak kecil. Hargailah aku walau hanya sekali.” Kalimat itu membuatku berpikir. Betapa anak ini ingin digunakan suaranya. Dan seluruh kelompok mengacuhkan. Aku justru menatapnya dengan ragu. Sepertinya perlu benar ia bersuara. Tentu bukan karena ia kecil dan aku merasa iba olehnya. Terkadang lincah benar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi apalah artinya semua itu jika umur memang tak menyetujui. ...