Sorot Mata yang Ingin Didengar

Dia begitu ingin dianggap dewasa. Atau katakanlah besar. Mungkin lebih tepatnya ia ingin didengar suaranya. Ya, walaupun hanya sepatah kata, itu membuatnya tenang.

Bocah kecil itu memang benar-benar kecil. Bukan karena ia tak dianggap atau apa, di dalam kelompok. Tapi dia memang dirasa belum mempunyai hak untuk bersuara. Tapi dari situ terlihat jelas bahwa ia ingin sekali didengar. Dari sorot matanya ia begitu yakin kalau ia punya gagasan, ia punya ide. Dari sorot matanya tersirat jelas kalau idenya adalah yang terbaik.

Pernah sekali aku mendengar ia berkata, “Aku bukan anak kecil. Hargailah aku walau hanya sekali.” Kalimat itu membuatku berpikir. Betapa anak ini ingin digunakan suaranya. Dan seluruh kelompok mengacuhkan. Aku justru menatapnya dengan ragu.

Sepertinya perlu benar ia bersuara. Tentu bukan karena ia kecil dan aku merasa iba olehnya. Terkadang lincah benar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi apalah artinya semua itu jika umur memang tak menyetujui.

Dan malam itu aku mengajaknya bicara. Berdua saja. Ketika mereka sedang tertidur.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanyaku sambil menawarkan minum.

“Entahlah, aku seolah anak kecil. Dan aku sudah hampir melupakan itu.” Ia minum satu tegukan.

“Kau tahu, aku selalu berpikiran kalau kau memiliki ide-ide yang berbeda. Ya, berbeda dengan mereka. Dan terkadang itu dibutuhkan ketika semuanya sedang buntu.”

“Tapi lihatlah. Aku hanya mahluk kecil yang menumpang di kapal bajak laut. Seorang awak bukan, tahanan juga bukan. Mereka benar-benar menganggapku tak ada.” 

Diteguknya lagi minuman itu.

“Setidaknya aku masih yakin dan percaya kalau kau seorang awak yang kami butuhkan.”

“Tapi kau selalu diam saja ketika aku ingin bicara. Kau sama saja dengan mereka. Hanya saja kau mau bicara denganku ketika malam-malam seperti ini.”

Aku tak bisa menjawab pernyataannya. Kuminum saja minumanku.

“Tidurlah. Bukannya kau besok harus ke pasar membeli sayur untuk toko?”

“Baiklah, aku akan tidur begitu kau mematikan lampu kamarmu.”

“Selamat malam, kawan kecil.”

Keesokan harinya dia pergi. Bukan ke pasar. Ia menulis di sebuah kertas kalau ia ingin berkelana. Ia ingin mencari kapal yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Aku dan yang lain merasa kehilangannya pagi itu.



Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata