Hujan di Mata

“Kemana saja kau ini?”

“Entahlah. Angin selalu membawaku kemana-mana. Sesuka hatinya.”

“Kau seorang yang pasrah. Tidak pernah melawan.”

“Bukankah puncak dari hidup adalah kepasrahan?”

“Itu bukan berarti kau harus mau dibawa kemana saja.”

“Kau belum merasakan menjadi sepertiku.”

“Aku bisa merasakannya.”

“Ya, Kau bisa merasakannya.”

“Kau tidak percaya?!”

“Tadi aku bilang kau bisa.”

“Kau mengucapkannya hanya untuk menyudahi pembicaraan. Kau tidak benar-benar menganggapku bisa.”

“Baiklah, Kau tak mungkin bisa merasakannya.”

“Kau!... Kau sama saja! Tidak berubah. Ku kira setelah kau kembali dari perburuanmu yang tak jelas itu, kau akan berubah,... kau akan berbeda. Ternyata salah. Aku terlalu berharap lebih padamu. Aku sadar kalau aku bukan angin yang bisa membawamu kemana saja. Jadi, silahkan kau kembali pada hidupmu yang tak jelas itu. Aku pergi sekarang.


Pertemuan mereka selesai bahkan sebelum sempat duduk. Si perempuan berlari dengan menahan air yang mangkir di pelupuk mata. 

Si laki-laki hanya diam. Ia baru saja kembali dari tempat yang hanya dia yang tahu. Bajunya, mukanya, rambutnya, semua yang menempel di badannya serba lusuh. Dan sekarang hatinya turut lusuh. 

Punggung perempuan mengisi sejauh mata memandang, membuatnya tak berkedip. Membawa mendung yang perlahan bernaung tepat di atas ubun-ubun. Perlahan dan malu-malu, akhirnya jatuh juga rintik-rintik hujan sore itu. Sedikit demi sedikit melunturkan lusuh di badannya. Tapi tidak di hatinya. 

Baru si laki-laki sadar ketika punggung perempuan itu telah jauh di depan, bahwa ia tidak berubah sama sekali. Laki-laki itu masih mencintainya sama seperti dulu, ketika hujan membuat mereka bertemu. 

Rintik berubah besar. Bertambah besar dan begitu deras. Hingga menutupi hujan yang keluar dari kedua mata mereka. 
   

Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata