Cinta Bisa Diidealiskan
A man as he thinks, you can change it. Kutemukan sebaris kalimat itu entah dimana aku lupa. Kalau tidak di sebuah buku, tentu lah dari film. Keduanya media biasa aku belajar. Kau tak tahu itu. Bukan itu juga, kau belum juga tahu siapa aku. Sebelum kita bertemu dengan tidak sengaja di perpustakaan kampus. Sejak pertama kali itu, kau menyetujuinya. Berkata kalau manusia memang terlahir untuk berpikir dan memilih. Terlepas ia harus rela menerima takdirnya. Aku. Untuk mengimbangimu, kukatakan saja sebuah contoh: sekeras apapun seorang dilarang untuk melakukan keinginannya. Selagi keinginan itu masih menjadi pikirannya, entah kapan, dia akan tetap melakukannya. Karena dari pikiranlah seorang akan meninterprestasikan kedalam sebuah pilihan-pilihan. Kau mengangguk, tersenyum penuh arti. Oh iya, aku tidak akan menceritakan bagaimana kita dapat bertemu dan mengobrol seperti itu. Kau tentu enggan mendengar cerita picisan seperti itu. Aku mengertimu sejauh kau mengerti dirimu s...