Gadis Penjual Coklat Hangat
Andre sudah putus asa
hanya bisa menunggu dan mengamati saja. Minggu pagi ini ia enggan untuk
beranjak dari tempat tidur. Kebiasaannya naik sepeda ke car free day sirna
sudah. Bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan kalau minggu ini ia berangkat.
Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia sadar setelah kemarin melihat dia, gadis
penjual coklat hangat dibonceng seorang pria.
Mimpinya menusuk dirinya
sendiri. Andre pernah bermimpi suatu kali ia sedang naik sepeda di car free
day. Dengan cara apa dan bagaimana tiba-tiba saja, sepedanya berubah menjadi
sepeda yang ada boncengannya di belakang. Dan ia memboncengkan gadis itu. Ia
dipelukan dari belakang. Kuat sekali. Sampai ketika ia bangun masih
dirasakannya bekas pelukan si gadis di perutnya.
Seketika ia langsung mengebut
menuju car free day. Tak digubrisnya handphone yang biasanya selalu dilihat
dulu. Ia juga lupa minum air putih. Kayuhan sepedanya lebih mirip seorang
atlet. Kencang tak putus-putus. Bahkan sampai-sampai seorang ditikungan
meneriakinya lantaran dia terlihat ugal-ugalan dan hampir menabrak orang.
Sesampainya di jalan lurus
tempat car free day. Ia tahu harus menunggu dimana. Di seberang jalan yang
diseberangnya gadis penjual coklat biasanya mangkal. Dari sini ia bisa
mengamati segala kegiatan yang dilakukan gadis itu. Tanpa rasa takut ketahuan
sedang memperhatikan. Tentu saja, banyak sekali orang berlalu lalang. Dari yang
berjalan kaki, naik sepeda sepertinya, sampi yang memakai sepatu roda. Ia tak
pernah sesenang hari ini ketika datang ke car free day.
Andre menikmati setiap
momen yang tersisa. Karena sebentar lagi jalanan kembali berisi kendaraan
bermotor yang berlalu lalang. Melihat gadis itu menyapa pembelinya, tersenyum,
membuatkan segelas coklat, dan bercengkrama dengan teman-temannya seolah
membuat tubuhnya sehat wal afiat tanpa ia harus olahraga atau bersepeda secara
rutin. Diam-diam dalam hati ia berkata: “Kenapa tak kuajak kenalan saja ia, aku
bisa menyamar seolah-olah pembeli biasa. Lalu mengajaknya mengobrol ketika
pelanggan sedang sepi.” Dirinya sendiri menjawab: “Ide yang bagus.”
Dikayuh sepedanya kembali
pulang. Ia tak mau berkenalan sekarang. Ia tak ingin buru-buru. Bukan lantaran
Andre percaya kalau hal yang buru-buru itu tak baik. Tapi ia harus
mempersiapkan segala sesuatunya. Fisik dan mental baginya perlu untuk kejadian
yang menurut ramalannya akan menjadi kejadian paling dahsyat di tahun ini.
Sampai disebuah perempatan
yang penuh dengan baliho. Dilihatnya baliho paling besar tampak seorang artis
perempuan dengan krim di tangan. Sebelum ia memalingkan wajahnya, artis itu
mengedipkan mata dan seolah berkata: “You, the man.” Itu membuat keyakinan
Andre semakin di awang-awang. Seorang raja tak akan bisa menandinginya. Kedipan
dan kata ‘You, the man’ menemani perjalanan pulangnya dengan keyakinan minggu
esok ia pasti jumpa dengan gadis penjual coklat hangat.
***
Pagi itu minggu pertama
Andre melihat gadis penjual coklat hangat. Ini benar-benar klise, tapi bagi
Andre beberapa saat ia merasakan darahnya terpompa begitu cepat. Dan segala
aktivitas melamban, mengalami slowmotion. Dan diperparah semuany menjadi hitam
putih kecuali gadis penjual coklat hangat dan dirinya. Untung saja Joni
temannya menyadarkan.
Lepas dari adegan klise
itu, Andre langsung mengajak Joni untuk car free day minggu depan. Bahkan
sampai menjadikan car free day agenda rutinan. Joni menatapnya melongo.
“Ada apa kau ini? Mengapa
tiba-tiba saja. Katakan yang sebenarnya, apa yang baru saja kau lihat?” tanya
Joni.
“Kau lihat gadis penjual
coklat hangat itu. Aku baru saja melihatnya bercahaya diantara kegelapan.”
“Bagaimana dengan Ida?
Kemarin dia menanyakanmu.”
“Dia tak bercahaya, Jon.
Gadis coklat ini lah yang bercahaya.”
Joni tentu tak ambil
pusing. Bukan urusannya juga.
Minggu selanjutnya Andre
dengan sangat memaksa Joni untuk membawa kameranya. Ia ingin mengambil foto
Gadis penjual coklat itu diam-diam
lantas mencetaknya 32 R untuk dilihatinya terus menerus di kamar.
Dengan bersungut-sungut
tentu Joni mengiyakan. Andre adalah teman baiknya. Ya, walaupun mereka sering
berbeda pendapat dalam banyak hal. Juga tak jarang bersebarangan dalam
memandang suatu kejadian dan menaati tata tertib. Tapi itu kadang menurut Joni,
secara pribadi, adalah hal yang indah. “Bukankah kita terlahir berbeda, lantas
untuk apa disamakan.” Jawabnya sendiri.
Di tempat biasa. Di
seberang gadis penjual coklat hangat. Dibukanya tutup kamera Joni. Dinyalakan,
lalu dibidiknya kearah gadis penjual coklat hangat. Tapi tak ditekan-tekan
tombol shuttlenya. Sampai si gadis melihat ke arah kamera, dan Andre langsung
menyerongkan bidikannya. Sejenak ia takut ketahuan. Gadis itu kembali sibuk
dengan dagangannya.
“Kapan kau akan menekan
tombol shuttlenya?” keluh Joni malas melihat kelakukan temannya.
“Terkadang ketika aku
melihat keindahan, tak ingin aku memfotonya. Ingin kunikmati sendiri.”
“Hei! Itu kalimat Sean
O’conell di film Walter Mitty. Hina sekali kau memakainya.”
“Aku suka dengan itu.
Lantas dimana yang hina?”
“Tetap saja itu plagi...”
“Diam. Dia sedang dalam
posisi terbaik.” Potong Andre begitu saja.
Ya, minggu-minggu
selanjutnya. Joni lah yang jadi korban dari kasmarannya Andre. Obrolan-obrolan
yang biasanya tentang hal-hal penting seperti kenapa pasca car free day selalu
kotor. Dan petugas kebersihan harus datang membersihkan. Padahal sebelum car
free day mereka sudah membersihkan. Semua itu hilang, berganti dengna obrolan
sampah tentang gadis penjual coklat hangat.
Contohnya minggu ini,
entah minggu keberapa. Joni tak pernah menghitung. Perjalan pulang mereka,
dengan penuh dan berbusa-busa Andre menceritakan kejadian dia tahu nama gadis
penjual coklat hangat itu.
“Aku mendengarnya ketika
salah satu temannya memanggil dari jauh. Bukankah itu tanda kalau penungguanku
tidak sia-sia.”
“Kau bisa kapanpun tahu
namanya. Kau tinggal membeli satu gelas coklat hangat. Dan tanya namanya. Itu
lebih terlihat pria.”
“Tapi tidakkah terlihat
keren ketika nanti kita bertemu. Tanpa ia menyebutkan namanya, aku sudah
mengetahuinya dulu.”
“Iya jika dia berpikiran
seperti kau dan sebagai teman aku berharap begitu.”
Mereka berpisah di
tikungan terakhir. Andre ke kiri dan Joni ke kanan. Andre melambaikan tangan
sumringah. Dan Joni, ia menanggapinya enggan. Tanpa menoleh ke belakang
langsung saja dikayuh sepedanya menambah kecepatan.
***
Pagi ini Andre tidak
datang ke car free day. Joni sudah menunggunya di tempat biasa. Ah, pastilah
dia kecewa lantaran gadis penjual coklatnya dibonceng pria lain. Kasian Andre
ditusuk mimpinya sendiri, pikir Joni.
Padahal minggu kemarin ia
sudah sepakat untuk membaca puisi di dekat gerobak gadis penjual coklat hangat.
Rencana itu terlihat tak bakal terwujud beberapa saat setelah ide itu muncul.
Joni langsung kehilangan ambisinya. Lumpuh ditikam dalam diam. Tapi Joni justru
agak menyalahkan Andre. Bagaimana dia marah. Bahkan Andre bukan siapa-siapanya.
Kenalan pun belum. Di kursi tempat biasa mereka mengamati gadis penjual coklat,
perlahan Joni berjalan menyebrang dan membeli segelas coklat hangat.
Diberikannya puisi Andre untuk
gadis itu. Sambil basa-basi yang tidak terlalu penting. Joni banyak mengorek
informasi tentang gadis tersebut. Ah, sial betul nasib kawannya. Joni tak habis
pikir dengan perkataan gadis penjual coklat itu. Mendadak ia kehilangan
kata-kata. Pikirannya melambung menuju Andre. Ia tahu pasti, Andre pasti sedang
meratapi nasibnya. Tak mau beranjak kemana-mana. Diam saja di tempat tidur.
Joni tau betul tabiatnya seutuhnya.
Mendengar cerita dari Joni
yang begitu jujur tentang Andre yang diam-diam mengamatinya, gadis penjual
coklat hangat itu bahkan dengan senang mengajak Joni, tentu dengan Andre untuk
berkunjung ke rumahnya kalau berkenan. Joni mengiyakan saja. Ini akan membuat
gairah Andre kembali. Setidaknya sebelum ia mengetahui yang sebenarnya.
Setelah bubar dari car
free day, Joni bergegas menuju kos Andre. Memberitahunya kalau puisi yang
khusus dibuat untuk gadis penjual coklat itu telah ia berikan. Dan gadis itu
mengundang Andre untuk datang ke rumahnya.
“Dia begitu ingin bertemu
denganmu. Gadis itu, gadis penjual coklat hangat. Apa kau tak ingin
menemuinya?” bujuk Joni.
“Aku sudah melepaskannya.
Dia tak lagi bercahaya. Sama gelapnya dengan gadis yang lain.”
“Gadis penjual coklat itu
berkata akan membuat figura untuk puisimu. Ia akan memasangnya di rumah. Apa
kau tak mau menemu dan memasangkannya untuknya? Datanglah, selesaikan apa yang
kau mulai.”
“Aku tidak pernah memulai
apa-apa. Jadi tak ada yang harus diselesaikan.”
“Setuju. Kau tak memulai
apa-apa. Aku tadi yang memulainya. Jadi biarkan aku yang datang ke rumahnya.
Mengatakan pada gadis penjual coklatmu, kalau kau salah menulis puisi. Bukan
untuknya, tapi untuk gadis penjual coklat hangat yang lain.”
“Berhenti memanggilnya
gadis penjual coklat. Dia bernama Rini.”
“Baiklah, aku akan ke
rumah Rini. Sore ini juga. Sepertinya Rini tak bisa menunggu kebohongan. Jadi
biarkan aku mengatakan yang sejujurnya.”
“Ba-ik-lah.” Jawab Andre
terbata dan pelan seolah dia malu mengakui kalau ia senang diundang ke rumahnya
si depan Joni.
Sore pukul 4 mereka
bersepeda ke rumah Rini. Rumahnya hanya dua kilo dari tempat biasa ia
berjualan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya. Hanya saja Andre lah
yang sepertinya deg-degan. Ia bersepeda begitu pelannya. Seolah ingin rasanya
ia memutar arah dan kembali ke kos.
Kebimbangannya tak
berujung jawaban. Sekarang ia sudah sampai di depan rumah Rini. Secepat itu
Rini langsung berada di depan pintu. Joni menghampirinya cepat. Andre melihat
Joni tampak begitu akrab dengan Rini. Ia mendengar sayup-sayup Joni meminta
maaf karena agak terlambat. Rini terlihat manguk-manguk mengiyakan. Memaklumi.
Andre yang masih berdiri
dekat sepedanya. Tiba-tiba dipanggil Rini.
“Kemarilah, Andre! Aku
menyukai puisimu. Aku akan memasang di figura. Maukah kau membantuku
menempelkannya di dinding?” ucap Rini dengan sumringah yang tak dibuat-buat
sama sekali.
Andre terkejut. Rini lah
yang tahu nama Andre dulu. Bukan sebaliknya.
“Ba-ik-lah,” jawabnya
terbata.
Masuklah ketiganya ke
rumah. Sambil mengira-ngira tempat yang pas untuk menempelkan figura. Rini
memanggil seseorang di dalam.
“Roni! Tolong ambilkan
palu dan pakunya. Aku hendak memasang figuranya.” Teriak Rini.
Datanglah Roni membawa
palu dan paku.
“Sepertinya di sini lebih
cocok, dekat kalender juga lalu lalang orang. Jika kau sedang melihat kalender
kau juga akan tering...” tiba-tiba Andre kaget melihat kalau orang yang
dipanggil Roni adalah pria yang memboncengkan Rini minggu lalu. Bibirnya
tertahan, enggan melanjutkan omongannya.
“Perkenalkan, dia suamiku.
Kau pasti terkejut. Tapi sungguh dia tak sepintar kau dalam berpuisi.”
Semua yang ada di ruangan
tertawa. Tapi tawa Andre kering, hanya formalitas. Ia benar-benar yang
dikejutkan bukan mengejutkan. Tak habis pikir, Rini terlalu muda untuk usia
menikah.
Tawa berhenti. Ada jeda
saling melirik. Dan tiba-tiba saja terdengar tangisan seorang bayi.
“Maaf, bayiku menagis. Aku
akan mengurusnya sebentar. Roni akan membantumu memasang figuranya.”
Andre seperti kehilangan jiwanya. Tertinggal tubuhnya saja berdiri di hadapan Roni.
Comments
Post a Comment