Cinta Bisa Diidealiskan

A man as he thinks, you can change it. Kutemukan sebaris kalimat itu entah dimana aku lupa. Kalau tidak di sebuah buku, tentu lah dari film. Keduanya media biasa aku belajar. Kau tak tahu itu. Bukan itu juga, kau belum juga tahu siapa aku. Sebelum kita bertemu dengan tidak sengaja di perpustakaan kampus.

Sejak pertama kali itu, kau menyetujuinya. Berkata kalau manusia memang terlahir untuk berpikir dan memilih. Terlepas ia harus rela menerima takdirnya.

Aku. Untuk mengimbangimu, kukatakan saja sebuah contoh: sekeras apapun seorang dilarang untuk melakukan keinginannya. Selagi keinginan itu masih menjadi pikirannya, entah kapan, dia akan tetap melakukannya. Karena dari pikiranlah seorang akan meninterprestasikan kedalam sebuah pilihan-pilihan.

Kau mengangguk, tersenyum penuh arti.

Oh iya, aku tidak akan menceritakan bagaimana kita dapat bertemu dan mengobrol seperti itu. Kau tentu enggan mendengar cerita picisan seperti itu. Aku mengertimu sejauh kau mengerti dirimu sendiri.

Kau benci sekali dengan kepalsuan. Selalu dalam bersikap kau otentik. Tidak mengada-ada atau sampai menutupi kekurangan apalagi sampai berbohong untuk mengambil hati lawan bicaramu.

Pandanganmu terhadapa manusia lebih bagaimana dia berproses. Bagaimana ia mengambil jalan untuk menyelesaikan masalah. Kau bukan seorang marxisme, bahkan kau tak mengenalnya. Tapi dari dirimu tercermin paham itu.

Katakanlah ketika kau melihat seorang pengemis masuk kampus, walaupun kau tahu ada larangan mereka masuk. Kau justru memberinya uang padahal kawan-kawan yang lain memandang pengemis itu salah. Selama manusia masih memiliki kaki dan tangan ia masih punya pilihan untuk bekerja bukan meminta.

Ia mengemis pun adalah pilihannya. Tentu tidak mudah untuk berproses mencapai keteguhan sepertinya. Kau harus menapikan segala omongan masyarakat. Apalagi pemerintah yang dengan kuasanya semena-mena melarang untuk memberi dengan alasan agar mereka berpikir dan bekerja, katamu.

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Entahlah, ketika aku melihat mereka. Dengan penampilan seperti itu. Terlepas itu dibuat-buat atau tidak. Aku merasa perlu memberinya uang.”

“Lakukanlah, kalau itu yang kau pikirkan.”

Lalu matahari mulai melambaikan salam perpisahan. Memaksa kita kembali ke kost masing-masing.

Kau tahu, sejak saat itu apa yang aku pikirkan. Dirimu.

Ketika aku mendengar teman satu kost mengeluh dengan tugas yang berjimbun. Aku mengingatmu. Kau hanya perlu menganggapnya sebagai proses untuk naik ke fase berikutnya, kataku. Tentu pilihannya ada padamu. Jika ingin naik ke fase berikut, kerjakan tugasmu dan berhenti mengeluh. Kalau kau merasa tak perlu naik ke fase selanjutnya, tinggalkanlah tugasmu, ambil gitar dan menyayilah sesuka hati.

Sial. Kau hadir lebih sering dalam pikiranku. Lihatlah ketika teman-teman sekost membicarakan Ibu kost yang suka sekali marah-marah. Dalam hati aku mengatakan, Ibu kost mungkin sedang bermasalah, entah dengan suaminya atau anaknya atau yang lain. Kita hanya perlu menerima marahannya dan bertanya tentang hal-hal yang dia pikirkan.

Kau. Dan kau. Kau saja yang ada dipikiranku. Ini membikinku tak bisa tidur. Walaupun pada akhirnya aku tertidur juga.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, ketika aku baru bangun seorang teman mengetuk pintu. Mataku belum kuat untuk benar-benar melek. Aku perlu tidur beberapa menit lagi.

“Kenapa kau ini, menganggu orang sepagi ini?”

“Bolehkah aku meminjan uangmu? Dana beasiswaku belum turun. Aku harus mencetak makalah. Berapapun kau punya aku ikhlas menerimanya.”

Itu bukan urusanku. Siapa suruh beasiswamu belum turun. Kenapa kau meminta bantuan padaku. Kau pikir aku lebih baik darimu, pikirku.

Namun, kau tahu, setelah diri menyentuh kesadaran. Aku teringat dirimu. Lalu aku berkata pada temanku itu.

“Tenanglah. Kau butuh berapa untuk mencetak makalah? Apakah kau punya uang untuk makan hari ini?”

Dia tersenyum lega. Sangat berterimakasih padaku. Bahkan dia berjanji kalau nanti dana beasiswanya turun, selain hutangnya dibayar, dia juga akan mentraktirku.

Tak perlu seorang motivator untuk merubahku, pun seorang kiai dengan segala dzikirnya. Hanya bertemu denganmu. Itu saja.

Hari-hari selanjutnya berjalan cepat. Kita sering terlibat dengan berbagai macam diskusi. Entah itu tentang sejarah, konspirasi, atau kadang-kadang juga cinta. Tak terlihat kalau kau tak menguasai setiap pembicaraan.

Sedangkan aku semakin hari pula semakin tiada jeda tanpa memikirkanmu. Tak kubayangkan zaman dulu ketika nabi masih hidup. Bagaimana hanya dengan melihat tingkah lakunya orang lantas mengikuti. Barangkali itulah cinta.

Maka tak perlu waktu lama untuk menerjemahkan itu kedalam tindakan. Telah kurancang segala sesuatunya. Langkah-langkah telah kutata. Rencana A, bersusul rencana B, bahkan dengan semangatnya rencana C.

Tapi sayang, seribu sayang. Belum sempat aku meluncurkan rencana kau membuka terlebih dulu. Mimik wajahmu terlihat ingin melepaskan beban. Lantas keluar segala kata-kata dengan derasnya. Bahwa kau dalam diam mencintai Marko. Kawanku sekelas. Hampir setiap saat kau memperhatikannya. Katamu Marko berbeda dengan yang lain. Ia mengerti bagaimana memposisikan diri. Kepada seorang teman yang dianggap nakal, kepada teman yang dianggap alim. Ia mampu bergaul dengan siapapun. Bahkan dia tak pernah merasa minder kalau harus mendebat dosen.

Aku mendengarkanmu mahfum. Hikmat. Tiada berani aku menyela sedikitpun. Bukan karena aku takut, karena segala kata-kata runtuh tak berbentuk. Mengembalikannya berdiri hanya membuat itu tampak goyah. Jadi aku hanya diam begitu saja. Sambil mengangguk-angguk mengiyakan.

Perlahan. Aliran darah pada tubuhku seperti melonjak tinggi. Aku tak sabar ingin mengakhiri pembicaraan ini. Melupakan pertemuan kita. Menghapus pendanganku terhadapmu. Tapi kau terus saja nyeriwis.

“Dia kuasa atas dirinya. Dia menyatu dengan semua. Berprinsip teguh, kalau ada yang membuatnya bimbang, pastilah itu keadaan teman-temannya yang miskin dan tak memiliki kesempatan seperti yang lainnya.” Tambahmu.

“Aku setuju.”

“Kau tahu apa yang sekarang kupikirkan?”

“Marko,” jawabku menyela.

“Bukan.”

“Lantas apa?”

“Bagaimana jika aku kelak menikah dengannya? Pastilah akan lahir orang-orang sepertinya di negeri ini. Orang yang rela menolong sesamanya. Sang pembela kaum-kaum tertindas.”

“Itu sama saja.”

“Aku sedikit lebih jauh dari hanya seorang pribadi. Tapi manfaat kedepannya.”

“Kau terlalu jauh berpikir.”

“Bukankah manusia hidup diukur dari manfaatnya? Seperti kata nabi-nabi zaman dulu.”

“Entahlah. Aku tak terlalu memahaminya.”

Aku sudah tak tahu harus menanggapi bagaimana. Jika aku mendukungnya itu sama saja menusukan pisau ke ulu hati. Tapi jika aku menolaknya aku takut kau curiga yang bukan-bukan padaku.

“Wajahmu tampak muram hari ini. Ada masalah apa?”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Lantas aku minta izin padamu pulang. Ada urusan di kost, kataku berbohong.

Persetan dengan pandanganmu tentang proses. Kenyataannya orang-orang hanya memandang hasil, tampilan, katakanlah bungkusnya saja. Taat aturan, entah itu aturan negara maupun etika di masyarakat. Aku akan ikut mengosipkan ibu kost, aku tak mau meminjami temanku uang. Aku tak ingin memberi uang sepersenpun kepada pengemis. Kalau mau makan, bekerjalah. Orang harus bekerja untuk hidup. Meminta-minta adalah perbuatan hina, mengkufuri kesempurnaan yang diberikan Tuhan.

Dan kau tak mungkin bisa bertahan dengan prinsipmu. Kau tak mengerti makna bertahan. Dia yang mampu menyesuaikan diri, dia yang akan bertahan. Kau terlalu naif untuk menganggap kalau dirimu suci dan yang lain tidak. Bahkan kau memandang cinta seperti kapitalis, siapa yang kuat dialah yang berhak menerima cintamu. Kau lebih memilih Marko, karena dia kuat adanya. Dari awal kau telah salah.

Dan Marko, kuberitahu padamu, bahwa dia memandang cinta seperti para sosialis. Ia mencintai semuanya sama rata. Jadi seandainya dia mencintaimu, itu setara dengan cintanya pada burung peliharaannya: Tito. Masihkah kau mengharapkannya.

Ya, tentu saja kau akan tetap mengharapkannya. Kau tak lebih seorang politikus menjijikan yang beranggapan bahwa tujuan adalah segala. Yang tak mengubris cara pencapainya, entah itu buruk atau baik. Yang terpenting dan utama adalah tercapainya tujuan. Tentu kau menjadikan Marko alat agar kau bisa melahirkan anak-anak sepertinya. Pikirkan lagi, itu sama saja kau memperkosa arti cinta.

Solo, 20 Juli 1995

***

Aku telah berumur 25 tahun ketika menemukan tulisanmu ini. Dan kau tahu apa yang kupikirkan? Dirimu.

Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata