Kompilasi Puisi Wong Selo
Pesta
Jalan Lama
Karya: Arif Wahyu Nugroho
Teh hangat menjadi teman
Mie goreng menjadi sahabat
Jalan lama menjadi kekasih
Inikah bulan yang ingin bersinar
Apakah aku bisa meraih bintang
Jika diriku masih mengais tangga
Pesta jalan lama
Aku hanya duduk ditemani coklat
Apakah itu coklat?
Bukan, itu hanya secangkir teh
Bukan secangkir keindahan cinta
Cinta? Apa itu sejenis teh?
Bukan, itu hanya penganggu hati
Seperti rumput yang tumbuh di tengah sawah
Lalu dima pesta jalan itu?
Kau bertanya padaku?
Akan aku jawab jika aku ...
Bisa berjalan denganmu
Seperti
Solo
Karya: Nurmansyah Triagus Maulana
Satu atau dua tahun serasa tanda silang
mencoret kalender
Aura ini telah meresap ke dalam sumsum
tulangku
Sepanjang jalan Selamet Riyadi yang menjadi saksi
Tapak kakiku. Hiruk. Pikuk. Semangat pagi
wong Solo begitu berseri dengan alunan suara campursari dan gending jawa pagi
hari
Ratusan monumen yang mungkin dapat
menggetarkan manusia millenium ke zaman 45
Tak kalah terkenalnya ribuan budaya yang
melapisi Soloraya
Namun adakalanya Solo menjadi sunyi di
malam hari setenang aliran Bengawan Solo
Hari ini memori-memori itu membuat aku
ingin seperti Solo
Pelacur
Musim Hujan
Karya : Sholikah Yuliana Wisudawati
Permisi hujan
Permisi tuan yang menyediakan kenyamanan
Jika aku menyambut tuan yang sore ini
berkunjung
Apa yang tuan tawarkan untukku dan
kesetiaanku?
Tawaran menyenangkan jika itu nikmat dari
kunjungan tuan
Aku akan menjadi tanah basah yang
menyajikan kesetiaan
Aku akan menghadirkan keyakinan atas
kehadiran tuan
Namun tidak tulus saya memberi pada tuan
Jika tuan hanya berdiam dan mengabaikan
Karena aku akan meminta teduh dibawah tuan
Dan teduh itu yang membuatku bertahan
menyambut tuan
Tuan hadir disuasana yang tepat dan
menegangkan
Padahal tuan seringkali hadir di tempat
yang tidak diharapkan
Tanpa menyentuh dan hanya tuan pandangi
leherku
Padahal kututup sehelai kain tipis yang
terawang
Berlalulah bosan dan tuan datangkan sepi
yang bernafsu
Tuan ingin aku tetap terjaga dengan aroma
segarku
Tuan juga ingin aku menyambut kedatangan
tuan dengan utuhnya tubuhku?
Aku meminta tuan merelakan surga tuan
kepadaku
Dan aku meminta tuan menyediakan belaian
dan bukan jahanam
Maka akan aku relakan darahku pada tuan
Yang alirannya membuat perih dan amis
Surakarta, 11 Desember 2015
Dalam
keramaian karantina kelompok manusia yang menyegarkan
Harap-Harap
Karya: Lutfi Khakim
Bila keindahan adalah menahan untuk tak
memiliki
Maka harap harus dijaga
Bila kenikmatan adalah melepaskan tanpa
syarat
Maka hasil hanya tempat singgah
Seorang gelandangan menahan sekaligus
melepaskan
Di emper-emper toko kerjaannya berharap saja
Tak pernah ia rasai memiliki
Segala miliknya sudah lepas jauh hari
Tapi ia harap-harap keadilan
Yang bukan dan tak berhak ia miliki
Jadi indahkah harap-harap itu?
Sekretariat
MTV, 17 Desember 2015, pukul 01.28 WIB
Comments
Post a Comment