Posts

Showing posts from 2014

Kolam Teratai

Kabut turun pagi ini. Beriring suara ayam berkokok yang terdengar malas menemani ayunan sapuku menyapu ruang tengah. Debu yang tersapu seperti hendak menusuk ke dalam hidung lalu membuatku bersin habis-habisan. Entah kenapa pagi ini terasa aneh bagiku. Tak seperti biasanya. Sejak sholat shubuh tadi aku telah merasakan keganjilan. Duh. Perasaan apa ini, pikirku. Cepat-cepat aku menghabiskan sisa lantai yang belum tersapu dan membuangkan ke halaman rumah. Dan betapa kagetnya aku ketika kolam terataiku hancur tak karuan. Bunganya patah, ada bekas longsoran tanah di sisi-sisi kolam, dan banyak tangkai teratai dicabut dan di lempar ke gedhek warung ibu di sebelah kiri kolam. Aku marah sekali. Ini adalah bentuk teror padaku. Siapapun yang melakukannya harus berhadapan denganku. Apa alasan mereka dan siapa mereka. Aku sama sekali tak punya musuh di kampung ini. Aku hanya lulusan SMA dan anak seorang penjual gorengan. Aku hanya pengagum Ki Hajar Dewantoro dan bunga teratai, yang mengajar ...

Wacana Naik Gunung*

Image
Kita sedang makan siang waktu itu. Di sebuah warung makan yang menggunakan ruang tamunya untuk menaruh beberapa meja makan dan berbagai macam lauk-pauk. Sebelumnya sudah kusimpan keinganan untuk naik gunung sejak kemarin. Ini mungkin waktu yang tepat untuk mengajak mereka. Wawan dan Caca harus mau. Bagaimanapun caranya kita bertiga harus naik gunung. Hati ini bergemuruh ketika mulut hendak mengungkapkan kata ajakan itu. Mereka tampak tak punya keinginan sama sekali untuk naik. Hah. Rasa pesimis selalu menghantui orang tanpa keyakinan yang kuat. Hampir setengah piring kuhabiskan nasiku, masih saja gemuruh itu belum pergi. Perlahan tapi pasti, kuajak mereka untuk naik. Ternyata perasaan pesimis tadi adalah firasat. Wawan menolak dengan alasan capek. Sial. Kenapa dia mudah capek akhir-akhir ini, atau itu hanya alasan saja. Biarlah. Saatnya beralih ke Caca. Dengan teori resonansi: jika Caca mau pasti Wawan juga mau. Dan ternyata, teori resonansi itu terbukti, namun bukan dari Caca ke ...

Negeri Ya

Di negeri bernama Ya, orang-orang selalu bilang ya. Kata tidak seperti saklar kematian. Di negeri bernama Ya, orang-orang beraktivitas dengan teratur, tepat waktu, disiplin, dan selalu tersenyum kepada sesama. Di negeri bernama Ya, tak ada yang membantah, tak ada yang melawan. Semua permintaan, aturan, perintah selalu sama jawabannya: Ya. Maka bisa dibayangkan di negeri ini tidak akan ada sampah berserakan, tidak ada pengemis di jalan-jalan, tidak akan ada pengamen, pedagang asongan, apalagi rakyat miskin. Tidak ada. Semuanya terlihat sempurna. Kota-kota bersih dan rapi, indah teratur. Desa-desa begitu asri dan adem ayem. Di negeri bernama Ya, orang-orang dengan rasa ingin tahu yang berlebih bisa berakhir pada kematian. Pernah sekali, ada orang yang penasaran dan ingin membuktikan. Apa benar jika mengucap kata tidak, maka ia akan mati. Dan sungguh mengenaskan. Keesokan harinya orang itu hilang. Tak berbekas. Para tetangga tak ada yang menangis, tak ada yang berduka cita, tak ada yan...