Asa Daun

     Tidak seperti yang lain. Kau beda. Sejak kali pertama Aku bertemu denganmu perasaan itu telah ada. Seperti rasa nyaman yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Waktu itu Aku sedang usil pada siapapun. Dan sialmu, Kau lewat depanku. Kulempar ular palsu mengagetkanmu. Tapi Kau sama sekali tidak kaget atau takut. Malah terkesan tak peduli. Perasaan itu ada entah darimana asalnya. Hari-hari berikutnya Aku selalu mencari cara agar bisa berangkat dan pulang denganmu walaupun hanya sekadar mengikutimu di belakang. Lama-lama Aku berani mengajakmu bicara, kita saling ledek. Kita tertawa lepas kala itu. Tak perlu waktu lama untuk akrab denganmu. Perasaan itu samar, mencari kejelasan. Kubiarkan saja, enggan merusak suasana indah ini. Sudah seperti dua rekan tim yang solid. Aku suka menulis puisi, Kau suka baca puisi. Klop, serasi, pas, atau kata apalah yang cocok untuk mengungkapkannya. Indah sekali. Nyawaku seperti terbelah, sebagiannya ada pada dirimu. Sangking senengnya  Aku bahkan telah membuat nama untuk kita “SALUT” alias ‘Asa-Lutfi’. Menerima order puisi dan pembacaanya sekalipun. Aneh memang. Tapi itulah bentuk asli sebuah persahabatan. Semakin hari, cerita tentang kita telah membumbung seantero sekolah. Aku merasa senang, tapi entah karena apa. Tapi dimana Kau sekarang. Kau menghilang. Mengapa. Ada apa. Kita tak pernah punya masalah kan. Perasaan ini resah ingin tahu dimana dirimu sekarang.
     Lama Kau hilang. Hari ini, kutemukan senyummu lagi. Langsung kuhampiri, berucap salam basa-basi. Kau melihatku tapi tak menjawab. Ngeloyor pergi begitu saja. Tepat setelah pulang sekolah Aku menarikmu ke pohon besar dekat lapangan basket, tempat favorit kita. Wajahmu menolak tapi tubuhmu tak kuasa melawan.
     “Sebenarnya ada apa, sa?” tanyaku, binggung.
     Kau hanya diam.
   “Kita tak pernah punya masalah kan? Apa Aku pernah berbuat salah padamu? Aku minta maaf.”
     Kau masih saja diam. 
     “Mengapa Kau seolah menjauh dariku? Ada apa, sa?” tanyaku lagi, kesal.
     Kau masih tetap diam. Perasaan ini bimbang, tak tahu harus berbuat apa.
    “Baik, sa. Jika Kau ingin persahabatan kita berakhir, tak apa. Tapi tolong ceritakan apa masalahnya?” Paksaku, sambil kupegang pundak seraya menatap matanya dalam.
    Kau malah berpaling, tak berani menatap mataku. Seolah ingin bicara tapi tak bisa, Kau tampak sangat berusaha untuk mengatakan sesuatu.
     Aku diam. Mungkin itu pilihan terbaik, untuk saat ini.
     Kau kembali diam.
     Sekolah mulai lenggang, tinggal Aku dan Kau. Kau masih saja diam.
Bimbang. Mau bicara, namun mulut malas membuka. Mau mengajak pulang, tapi Aku belum mendapat jawaban darimu. Serba salah sekarang.
***
    “Lut, kamu tahu nggak daun yang berguguran ini sebenarnya gugur untuk kita,” ucapmu, bercanda atau bukan.
     “Kita? Maksutnya apa? Daun gugur ya gugur aja,” sahutku asal.
     Lalu Kau menjelaskan bahwa daun yang sudah kuning adalah daun yang tak lama lagi jatuh, hanya tinggal menunggu waktu saja. Aku masih belum mengerti. Kau menambahi lagi bahwa daun itu bisa saja gugur sesukanya, tapi karena kita sering bersama di sini. Maka akan lebih berarti kalau daun itu menahan untuk tidak gugur dan baru menggugurkan daunnya ketika kita datang kemari. Mereka ingin berarti untuk kita manusia, mereka ingin menunjukan bahwa sesuatu yang tampak tak berguna tak selamanya demikian. Justru sesuatu itu akan tampak indah jika kita dapat memaknainya. Seperti daun ini. Sambil Kau mengambil satu daun yang jatuh dan memandanginya seraya berucap “terima kasih, daun. Kau sungguh berarti bagiku, juga bagi kawanku, Lutfi.”
     Aku berdiri, melihatmu aneh. Memandang keatas pohon, lalu daun-daun berjatuhan. Aku kaget. Kenapa daun yang jatuh kali ini tampak beda. Seperti memberi hawa sejuk yang mendamaikan hati. “iya, sa. Rasanya agak beda,” kututup mataku,  merasakan momen ini. “Terima kasih, daun.”
Pikiranku kembali sadar dari lamunan. Kau masih diam di tempat. Matahari mulai condong. Sinarnya menerobos dedaunan. Seketika hatiku damai. Lupa akan masalah kemarin. Aku seperti rela Kau apakan saja. Sayang, kau masih saja diam. “sa, lihat! Daunnya gugur. Apakah kau masih ingat?” tanyaku frontal, merasa tak ada apa-apa diantara kita.
     Kau menoleh kepadaku. Menatapku tajam. Mencari sesuatu yang dalam. Tanpa berkedip sedikitpun. Matamu tampak mulai merah, perlahan terasa hawa panas disekitarnya, dan beberapa detik kedepan tumpahlah tangismu. Inilah yang kukhawatirkan sejak dulu. Kau memang beda. Kau bukan sembarang wanita yang mudah menyerah dalam menghadapi masalah, tapi justru karena sikapmu yang beda itu Aku khawatir Kau akan sulit untuk berbagi cerita tentang masalah kepada orang lain, walaupun itu sahabatmu sekalipun. Tangismu semakin terisak bersamaan dengan gugurnya daun. Melihat itu tangismu semakin menjadi. Semakin tak tertahankan, bebas lepas begitu saja. Kau berdiri dengan cekatan. Berlari meninggalkanku. Perasaan ini perih melihat dirimu pergi. Waktu mendadak lambat. Melemahkan tubuh, mengambil pita suaraku untuk memanggilmu. Ada rasa kehilangan yang tersekat di hati. Aku coba pandangi daun yang gugur lagi, mencoba mencari rasa damai, tapi tak bisa, tak bisa tanpa hadirmu di sini. Aku pasrah. Biarlah Aku mematung di sini sendiri. Biarkan Aku bersama daun gugur ini. Biarkan Aku memberi arti padamu untuk yang terakhir bersama daun ini.
     Kututup mataku, kurasakan daun-daun berjatuhan menimpa wajah. Mencoba mencari damai itu.  Dan kudengar daun itu menangis memelukku erat, semakin erat, seperti tak ingin kehilangan. “Lut, maaf. Daun itu gugur bukan untuk arti tapi karena daun itu terlalu tua untuk tetap bertahan di ranting.” Bisikmu dipelukanku. “Terima kasih, daun,” sambungmu lalu pergi. Perasaan ini hampa. Kembali kosong. Kosong yang teramat sakit. “Lalu untuk apa Kau berterima kasih pada daun kalau ia gugur karena tua?!” []

Comments

  1. ijin copas, nanti tak tempel di mading.. :v

    ReplyDelete
  2. desain template blog-nya kurang menarik, harus lebih banyak belajar blogging dulu.
    hehehe ... :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata