Posts

Showing posts from August, 2015

Kematian yang Tiba-tiba

Pagi-pagi benar Bari sudah mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan. Tidak seperti biasanya. Ditambah ini hari minggu. Tak sewajarnya koran justru diantarkan lebih pagi ketika hari libur. Tentu saja banyak tanggapan yang bermacam-macam dari pelanggan. “Nah, kalau bisa tiap hari seperti ini.” Ujar Pak Anto yang bekerja di kelurahan. Lain lagi dengan Pak Lukman. Ia agak marah-marah. Baginya itu hal aneh, tidak konsisten. Cerminan kalau pekerjanya seenaknya saja. Tapi komentar pedas Pak Lukman tidak menjadi pikiran Bari. Ia langsung meninggalkan suara Pak Lukman yang semakin jauh semakin sayup-sayup. Bari nampak sangat terburu-buru. Entah apa yang sedang menganggu pikirannya. Dia tak mengubris tiap ocehan para pelanggannya. Gerak dari rumah satu ke rumah yang lain pun sangat cepat untuk ukuran loper koran. Ia lebih mirip seperti sedang mengikuti lomba siapa cepat antar koran. Ketika semua koran telah selesai diantarnya. Basah kuyuplah ia oleh keringat. Segera mandi dan p...

Kampus

Dimana lahir kader-kader bangsa Dididik lama untuk negara Menjadi aset pertumbuhan dan kemajuan Kalau bukan di kampus, dimana pula Ada mereka yang menjadi ilmiah Keluar dari mulutnya kata-kata yang baru yang terdengar indah Ada pula yang menjadi pemikir Siang malam selalu berdiskusi di pinggir-pinggir jalan Kalau bukan di kampus, dimana pula Kadang antar mereka beradu Kadang juga mereka bersatu Mencari konklusi dari buku-buku Alangkah indahnya bila yang diperdebatkan Masalah-masalah bangsa Tapi tak lupa dengan diri dan kampus Perlu pula dijaga dan dirawat-ruat Oh, kampus Hidup di dalammu Mengajari kami kebijakan Tak memandang hanya dari depan Juga kebajikan dimana-mana Sayang, mahasiswamu masih juga begini ini Mengorek-ngorek diri dari lumpuran Menginginkan banyak tak mau bergerak Lagi pula masih buta arahmu juga Kemana akan dibawa, kemana akan dikejar Kampus, kalau bukan di sini dimana aku mencarimu?

Kata

Image
Sumber: https://duniatehnikku.files.wordpress.com/ 2011/11/text_portraits_04.jpg?w=400&h=400 Dari sejak kukenal kau kata Besar harapku padamu Kuperalat untuk kebenaran Kujadikan ajudan dalam perjuangan Kata, kata, kau diambil juga untuk berdusta Kadang juga jujur Tapi aku tak selalu berhasil Kadang juga tergelincir Sampai aku tertutup kabutmu Lupa memulai, lalai merapal Hampir ketika malam Aku lelah mempelajarimu Jika bukan karena aku bodoh Pastilah sudah jauh-jauh aku melampauimu Aku menjunjung tinggi dirimu Menempatkan pada titik tengah Membangun poros yang hampir roboh Sayang, itu hanya khayalanku Terbuai oleh mimpi tentangmu Lupa daratan! Dimana kaki berpijak Tak kujunjung langit Kini kau kata, kuperangkap dalam gelap Aku membisu bertemu musuh Dan kau kata, jauh lebih berkuasa Diri bersandar padamu laksana budak di raja Rela pasrah kau lucuti segala senjata

Karena Satu

Genderang ini sudah bergemuruh Siap lawan segala peperangan Tapi ia kalah hanya dengan satu: Senyummu, sayangku                          Tangan itu telah bergetar Menuliskan apa saja yang terlintas Tapi ia mati karena satu: Wajahmu, sayangku Sepeda ini telah siap kukayuh Melintasi padat merayap jalan ibukota Tapi ia berhenti karena satu: Hadirmu, sayangku Lupakan, lupakan, lupakan saja! Sajak cinta ini sampah Tapi satu yang membuatnya indah: Cintamu 

Aku Hampir Sekarat

Image
Sumber: https://img.okezone.com/content/2015/05/17/340/1151098/ bocah-wisatawan-terseret-ombak-belum-ditemukan-romcCPf9Su.jpg Datanglah sebelum detak ini segera usai Temui aku yang kehilanganmu Kemarilah sebelum denyut ini menghilang Aku menunggumu di taman belakang kota Tak ada maksud untuk memendam Bahkan ketika kita begitu dekat Jadi, segeralah datang sebelum segalanya berubah Telah kurobek tepat di jantung Membiarkannya terbuka sampai kau datang mengisinya Andai kau tak datang Aku tahu kau malu-malu Cepat, aku hampir sekarat Sebentar saja kau telat Detak dan denyut ini akan lenyap Hilang lebur bersama senja sore itu    Aku sudah sekarat Sebentar lagi aku bisa menjadi mayat Datanglah, karena senja itu berkata: Hadirmu melegakan

Liburan di Kamar

Siang itu panas tiada tara. Tapi di dalam sini, di ruangan ini. Tiada terasa apa-apa. Film yang barusan selesai sedih sedalam-dalamnya. Tapi di dalam sini, di hati ini. Tiada terasa apa-apa. Lagu yang mengalun ritmis, mengisyaratkan bangkit dan bergerak. Tapi kaki ini diam saja. Rozaq telah mati rasa. Sehari-harinya hanya di kamar. Selama liburan. Keluar hanya untuk mandi dan mengambil makan, lalu membawanya ke dalam kamar. Sekeluarga sempat mencarinya. Bahkan mengkhawatirkannya. Rani kakak perempuannya sampai menemuinya di kamar. Ia dimarahi habis-habisan. Tapi tak terasa apa-apa. Rani pergi dengan cemberut tertahan yang begitu jelek. Keesokan harinya Rozaq bilang kepada ibunya. Bahwa dia baik-baik saja. Meminta padanya jangan terlalu memikirkan. Sebelum ibunya berucap seperti mau menasehati. Rozaq langsung kembali ke kamarnya. Menonton film lagi. Mendengarkan lagu-lagu mp3 lagi. Kadang-kadang juga membaca buku. Selama ia di kamar, tak hanya rasanya yang mati. Ia jug...