Kematian yang Tiba-tiba

Pagi-pagi benar Bari sudah mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan. Tidak seperti biasanya. Ditambah ini hari minggu. Tak sewajarnya koran justru diantarkan lebih pagi ketika hari libur. Tentu saja banyak tanggapan yang bermacam-macam dari pelanggan.

“Nah, kalau bisa tiap hari seperti ini.” Ujar Pak Anto yang bekerja di kelurahan.

Lain lagi dengan Pak Lukman. Ia agak marah-marah. Baginya itu hal aneh, tidak konsisten. Cerminan kalau pekerjanya seenaknya saja. Tapi komentar pedas Pak Lukman tidak menjadi pikiran Bari. Ia langsung meninggalkan suara Pak Lukman yang semakin jauh semakin sayup-sayup.

Bari nampak sangat terburu-buru. Entah apa yang sedang menganggu pikirannya. Dia tak mengubris tiap ocehan para pelanggannya. Gerak dari rumah satu ke rumah yang lain pun sangat cepat untuk ukuran loper koran. Ia lebih mirip seperti sedang mengikuti lomba siapa cepat antar koran.

Ketika semua koran telah selesai diantarnya. Basah kuyuplah ia oleh keringat. Segera mandi dan pergi lagi. Dipakainya kemeja yang biasa digunakan untuk hari-hari terpenting saja. Dilap sepatunya sampai kinclong. Ia benar-benar telah bertransformasi dari seorang loper menjadi pria yang tampan. Dilihatnya dulu penampilannya di cermin sebelum keluar dan menutup pintu dengan yakinnya.
***
Hari ini Pak Lukman baru saja bangun. Dengan mata yang masih dikucek-kucek ia duduk di teras rumahnya. Kebetulan rumah Pak Anto berjajaran dengannya. Melihat Pak Anto sedang berbicara dengan seorang di pagi-pagi buta lantas Pak Lukman memincingkan matanya. Tak lama kemudian Bari sampai di rumahnya.

“Bari? Sekarang hari minggu dan kau datang sepagi ini?!” ucap Pak Lukman dengan nada yang agak marah. Melihat omongannya tampak tak digubris ia tambah marah.

“Dasar pekerja tak punya konsistensi. Cobalah profesional, jangan seenaknya saja memperlakukan pelanggan. Hah! Dasar!”

Setelah ditinggal begitu saja oleh Bari. Dengan masih ngedumel, Pak Lukman duduk juga di kursi dan membaca koran hari itu. Banyak berita-berita santai. Itu wajar di hari minggu. Tapi anehnya ada berita orang bunuh diri. Mirisnya lagi, ia bunuh diri karena alasan yang menurut Pak Lukman tidak logis.

“Bagaimana bisa seseorang bunuh diri dengan alasan kemiskinan. Bagaimana tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Sudah miskin lari dari tanggung jawab. Tersiksa di dunia, di akhirat juga sengsara. Ck..,ck..,ck.” batin Pak Lukman dalam hati.

***
Esoknya lagi Bari terlihat sangat bahagia. Sumringah pada setiap orang yang ia temui di jalan. Entah itu yang ia kenal ataupun tidak. Begitu pula dengan para pelanggannya. Pak Anto sempat mengajaknya makan karena sangking sumringah dan supelnya Bari. Namun lantaran masih banyaknya koran yang belum diantar, ia menolak dengan halus.

Tiba di pintu gerbang Pak Lukman. Sebelum ia memberikan koran kepada Pak Lukman, tak lupa Bari meminta maaf karena kesalahannya kemarin.

“Iya, saya maafkan. Tapi kemarin itu kamu kenapa terlihat begitu buru-buru?”

“Saya, pak. Saya, saya ini kemarin diwawancarai untuk profil di majalah mingguan.”
Pak Lukman mangut-mangut mengiyakan.

“Selamat, Bar. Besok datanglah atau sekarang mampirlah. Kita makan bersama pagi ini. Bagaimana?”

“Jika ada waktu pasti saya mampir. Tadi Pak Anto juga mengajak makan bareng.”
Bari pamit dan Pak Lukman mengucapkan terima kasih.

***
Siang itu Bari datang ke rumah Pak Lukman. Memenuhi ajakannya makan bersama. Belum sempat ia masuk. Tampak di rumah Pak Anto sedang banyak orang berdatangan. Banyak mobil berparkiran di jalan-jalan depan rumah. Setelah ia bertanya orang yang kebetulan lewat di depannya. Barulah ia tahu kalau Pak Anto sudah tak bernyawa. Menurut orang yang ditanyai itu, Pak Anto menghabisi dirinya sendiri. Ia mengantung lehernya di halaman belakang rumah setelah meminta kopi pada pembantunya. Tapi ketika pembantunya mencari-cari Pak Anto di dalam rumah tak ketemu, ia tahu kalau Pak Anto sedang dibelakang. Dan ketika pembantu itu sampai di belakang, tubuh Pak Anto sudah tergantung kaku.

“Kita tidak tahu umur seorang sampai kapan. Entah itu kaya atau miskin. Tidak bisa menjadi alasan untuk mengakhiri hidup yang Tuhan berikan pada mereka.” Ujar Pak Lukman dari belakang mengangetkan.

“Astaga Pak Lukman!” Reflek Bari.

“Padahal tadi pagi sempat saya bertemu dengannya. Ia mengatakan kalau orang yang bunuh diri mungkin orang tersebut merasa begitu banyak dosa, kalau tidak mati ditakutkan dosanya akan semakin banyak lagi.”

“Sungguh tak terduga, sepertinya mimpi saja. Sepertinya Pak Anto bukan  orang seperti itu. Maksud saya, Pak Anto bukan orang yang dengan mudah mengambil jalan mengakhiri hidupnya. Kalau, toh, ia banyak dosa pastilah ia pergi ke gereja dan menebusnya. Tapi bagaimanapun juga, hidup sudah ada yang menentukan. Begitu juga dengan mati, walaupun itu bunuh diri.” Jawab Bari dengan muka berkabung.

“Sepertinya acara makan kita wajib ditunda, Bar.”

Tiba-tiba mata Bari terbelak kaget. Baju rangkap yang digunakan Pak Lukman mirip sekali dengan yang dipakai Pak Anto. Pun tampak terlalu ketat untuk digunakan Pak Lukman. Apakah benar ini bukan tragedi bunuh diri, pikir Bari penuh deg-degan yang luar biasa.

“Tidak-tidak, tidak mungkin Pak Lukman membunuh Pak Anto. Mungkin mereka sengaja membeli kaos yang sama.” Ujar Bari pada dirinya sendiri.

“Bagaimana, Bar? Kita tunda makan bersama kita. Kau setuju?”,

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Bari. Dengan begitu saja dan sedikit tergesa-gesa ia menjawab, “Sepertinya, tidak, usah, saja, Pak. Saya, banyak, acara, hari ini.” ucap Bari gugup kata per kata. Lantas pergi meninggalkan Pak Lukman.  
   



Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata