Liburan di Kamar

Siang itu panas tiada tara. Tapi di dalam sini, di ruangan ini. Tiada terasa apa-apa. Film yang barusan selesai sedih sedalam-dalamnya. Tapi di dalam sini, di hati ini. Tiada terasa apa-apa. Lagu yang mengalun ritmis, mengisyaratkan bangkit dan bergerak. Tapi kaki ini diam saja.

Rozaq telah mati rasa. Sehari-harinya hanya di kamar. Selama liburan. Keluar hanya untuk mandi dan mengambil makan, lalu membawanya ke dalam kamar.

Sekeluarga sempat mencarinya. Bahkan mengkhawatirkannya. Rani kakak perempuannya sampai menemuinya di kamar. Ia dimarahi habis-habisan. Tapi tak terasa apa-apa. Rani pergi dengan cemberut tertahan yang begitu jelek.

Keesokan harinya Rozaq bilang kepada ibunya. Bahwa dia baik-baik saja. Meminta padanya jangan terlalu memikirkan. Sebelum ibunya berucap seperti mau menasehati. Rozaq langsung kembali ke kamarnya.

Menonton film lagi. Mendengarkan lagu-lagu mp3 lagi. Kadang-kadang juga membaca buku. Selama ia di kamar, tak hanya rasanya yang mati. Ia juga kehilangan emosinya. Awal liburan tiba ia masih sering tersenyum bahkan tertawa ketika menonton film komedi. Namun lambat laun ia sama sekali kehilangan senyumnya. Yang tinggal hanya wajah datar tanpa dosa.

Akibat percakapannya dengan ibu kemarin. Sekeluarga semakin penasaran dengan perubahan sikap Rozaq. Berkumpulah mereka merapatkan apa yang sebenarnya terjadi pada anak nomer dua itu.

“Kalau dibiarkan, ibu takut kalau dia seperti anak Pak Komar. Sekarang masih di panti rehabilitasi.” Ujar Ibu.

“Tidak mungkin. Rozaq tidak mungkin seperti itu. Aku kakaknya sejak kecil, dia bukan orang yang mudah goyah psikologinya,” bantah Rani.

“Kalian ini kok malah debat sendiri. Kalau Rozaq sudah bilang dia tidak apa-apa, pastilah dia tidak apa-apa. Mungkin dia hanya ingin berlibur. Bapak dengar-dengar perkuliahan lebih keras ketimbang SMA.”

“Sebenarnya Kak Rozaq kenapa sih, Pak?” sahut Roni, adik laki-laki Rozaq yang baru berumur tujuh tahun. “Bukannya dia baik-baik saja? Roni sering melihatnya di kamar mengerjakan tugas-tugas.”

“Betulkah itu, Ron?” tanya Ibu memastikan.

“Kak Rozaq bilang gitu waktu kutanya sedang apa, Kak?”

“Syukurlah,” ucap Ibu sambil mengelus dadanya–lega.

“Apa Rani bilang. Pasti Rozaq baik-baik saja.”

“Tapi kenapa kemarin-kemarin kamu marah-marah padanya?” tanya Bapak.

“Karena,… ya karena,… emm,”

“Sudah-sudah. Sepertinya kita harus mengajaknya jalan-jalan. Ke pantai mungkin. Bukankah dia dulu ketika libur sekolah sering mengajak ke pantai?”

“Setuju!” teriak si kecil girang.

Tiba-tiba Rozaq keluar dan menghampiri mereka. Seluruh mata saling pandang. Mengisyaratkan kebingungan. Apa yang harus dikatakan pada Rozaq.

“Sedang apa sih, pada kumpul malam-malam?”

Hening sejenak.

Semua mata tertuju pada Rozaq. Dan itu membuat Rozaq bingung sendiri. Dia melihat-lihat dirinya. Mengecek apa ada yang salah dengannya. Lalu bertanya pada Roni.

“Ada apa, Ron?”

“Besok kita merencakan jalan-jalan ke pantai, Kak.”

“Oh.”

Rozaq pergi meninggalkan mereka yang masih terlonggok di meja ruang keluarga. Tiba-tiba setelah berjalan beberapa langkah, ia menoleh kebelakang. Berbalik kembali menuju meja.

“Maaf, aku tidak bisa ikut. Aku telah mempersiapkan segalanya untuk besok. Aku akan bertemu dengan temanku sekolah. Bolehkah aku absen?”

Ibu, Bapak, Rani, dan Roni tercenggang bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Kampus

Karena Satu

Kata