Posts

Hujan di Mata

“Kemana saja kau ini?” “Entahlah. Angin selalu membawaku kemana-mana. Sesuka hatinya.” “Kau seorang yang pasrah. Tidak pernah melawan.” “Bukankah puncak dari hidup adalah kepasrahan?” “Itu bukan berarti kau harus mau dibawa kemana saja.” “Kau belum merasakan menjadi sepertiku.” “Aku bisa merasakannya.” “Ya, Kau bisa merasakannya.” “Kau tidak percaya?!” “Tadi aku bilang kau bisa.” “Kau mengucapkannya hanya untuk menyudahi pembicaraan. Kau tidak benar-benar menganggapku bisa.” “Baiklah, Kau tak mungkin bisa merasakannya.” “Kau!... Kau sama saja! Tidak berubah. Ku kira setelah kau kembali dari perburuanmu yang tak jelas itu, kau akan berubah,... kau akan berbeda. Ternyata salah. Aku terlalu berharap lebih padamu.   Aku sadar kalau aku bukan angin yang bisa membawamu kemana saja. Jadi, silahkan kau kembali pada hidupmu yang tak jelas itu.  Aku pergi sekarang. ” Pertemuan mereka selesai bahkan sebelum sempat duduk. Si perempuan ...

Sorot Mata yang Ingin Didengar

Dia begitu ingin dianggap dewasa. Atau katakanlah besar. Mungkin lebih tepatnya ia ingin didengar suaranya. Ya, walaupun hanya sepatah kata, itu membuatnya tenang. Bocah kecil itu memang benar-benar kecil. Bukan karena ia tak dianggap atau apa, di dalam kelompok. Tapi dia memang dirasa belum mempunyai hak untuk bersuara. Tapi dari situ terlihat jelas bahwa ia ingin sekali didengar. Dari sorot matanya ia begitu yakin kalau ia punya gagasan, ia punya ide. Dari sorot matanya tersirat jelas kalau idenya adalah yang terbaik. Pernah sekali aku mendengar ia berkata, “Aku bukan anak kecil. Hargailah aku walau hanya sekali.” Kalimat itu membuatku berpikir. Betapa anak ini ingin digunakan suaranya. Dan seluruh kelompok mengacuhkan. Aku justru menatapnya dengan ragu. Sepertinya perlu benar ia bersuara. Tentu bukan karena ia kecil dan aku merasa iba olehnya. Terkadang lincah benar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi apalah artinya semua itu jika umur memang tak menyetujui. ...

Kematian yang Tiba-tiba

Pagi-pagi benar Bari sudah mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan. Tidak seperti biasanya. Ditambah ini hari minggu. Tak sewajarnya koran justru diantarkan lebih pagi ketika hari libur. Tentu saja banyak tanggapan yang bermacam-macam dari pelanggan. “Nah, kalau bisa tiap hari seperti ini.” Ujar Pak Anto yang bekerja di kelurahan. Lain lagi dengan Pak Lukman. Ia agak marah-marah. Baginya itu hal aneh, tidak konsisten. Cerminan kalau pekerjanya seenaknya saja. Tapi komentar pedas Pak Lukman tidak menjadi pikiran Bari. Ia langsung meninggalkan suara Pak Lukman yang semakin jauh semakin sayup-sayup. Bari nampak sangat terburu-buru. Entah apa yang sedang menganggu pikirannya. Dia tak mengubris tiap ocehan para pelanggannya. Gerak dari rumah satu ke rumah yang lain pun sangat cepat untuk ukuran loper koran. Ia lebih mirip seperti sedang mengikuti lomba siapa cepat antar koran. Ketika semua koran telah selesai diantarnya. Basah kuyuplah ia oleh keringat. Segera mandi dan p...

Kampus

Dimana lahir kader-kader bangsa Dididik lama untuk negara Menjadi aset pertumbuhan dan kemajuan Kalau bukan di kampus, dimana pula Ada mereka yang menjadi ilmiah Keluar dari mulutnya kata-kata yang baru yang terdengar indah Ada pula yang menjadi pemikir Siang malam selalu berdiskusi di pinggir-pinggir jalan Kalau bukan di kampus, dimana pula Kadang antar mereka beradu Kadang juga mereka bersatu Mencari konklusi dari buku-buku Alangkah indahnya bila yang diperdebatkan Masalah-masalah bangsa Tapi tak lupa dengan diri dan kampus Perlu pula dijaga dan dirawat-ruat Oh, kampus Hidup di dalammu Mengajari kami kebijakan Tak memandang hanya dari depan Juga kebajikan dimana-mana Sayang, mahasiswamu masih juga begini ini Mengorek-ngorek diri dari lumpuran Menginginkan banyak tak mau bergerak Lagi pula masih buta arahmu juga Kemana akan dibawa, kemana akan dikejar Kampus, kalau bukan di sini dimana aku mencarimu?

Kata

Image
Sumber: https://duniatehnikku.files.wordpress.com/ 2011/11/text_portraits_04.jpg?w=400&h=400 Dari sejak kukenal kau kata Besar harapku padamu Kuperalat untuk kebenaran Kujadikan ajudan dalam perjuangan Kata, kata, kau diambil juga untuk berdusta Kadang juga jujur Tapi aku tak selalu berhasil Kadang juga tergelincir Sampai aku tertutup kabutmu Lupa memulai, lalai merapal Hampir ketika malam Aku lelah mempelajarimu Jika bukan karena aku bodoh Pastilah sudah jauh-jauh aku melampauimu Aku menjunjung tinggi dirimu Menempatkan pada titik tengah Membangun poros yang hampir roboh Sayang, itu hanya khayalanku Terbuai oleh mimpi tentangmu Lupa daratan! Dimana kaki berpijak Tak kujunjung langit Kini kau kata, kuperangkap dalam gelap Aku membisu bertemu musuh Dan kau kata, jauh lebih berkuasa Diri bersandar padamu laksana budak di raja Rela pasrah kau lucuti segala senjata

Karena Satu

Genderang ini sudah bergemuruh Siap lawan segala peperangan Tapi ia kalah hanya dengan satu: Senyummu, sayangku                          Tangan itu telah bergetar Menuliskan apa saja yang terlintas Tapi ia mati karena satu: Wajahmu, sayangku Sepeda ini telah siap kukayuh Melintasi padat merayap jalan ibukota Tapi ia berhenti karena satu: Hadirmu, sayangku Lupakan, lupakan, lupakan saja! Sajak cinta ini sampah Tapi satu yang membuatnya indah: Cintamu 

Aku Hampir Sekarat

Image
Sumber: https://img.okezone.com/content/2015/05/17/340/1151098/ bocah-wisatawan-terseret-ombak-belum-ditemukan-romcCPf9Su.jpg Datanglah sebelum detak ini segera usai Temui aku yang kehilanganmu Kemarilah sebelum denyut ini menghilang Aku menunggumu di taman belakang kota Tak ada maksud untuk memendam Bahkan ketika kita begitu dekat Jadi, segeralah datang sebelum segalanya berubah Telah kurobek tepat di jantung Membiarkannya terbuka sampai kau datang mengisinya Andai kau tak datang Aku tahu kau malu-malu Cepat, aku hampir sekarat Sebentar saja kau telat Detak dan denyut ini akan lenyap Hilang lebur bersama senja sore itu    Aku sudah sekarat Sebentar lagi aku bisa menjadi mayat Datanglah, karena senja itu berkata: Hadirmu melegakan